Ahad 20 Mar 2022 02:40 WIB

Pentingnya Tingkatkan Ketahanan Fisik Jamaah dan Petugas Haji

Haji tanpa diikuti dengan persiapan fisik yang maksimal sangat riskan.

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah
Jamaah Haji melempar jumrah dengan protokol kesehatan secara ketat, Selasa (20/7). Pentingnya Tingkatkan Ketahanan Fisik Jamaah dan Petugas Haji
Foto: (AP Photo/Amr Nabil)
Jamaah Haji melempar jumrah dengan protokol kesehatan secara ketat, Selasa (20/7). Pentingnya Tingkatkan Ketahanan Fisik Jamaah dan Petugas Haji

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Faktor kelelahan kerap menjadi pemicu munculnya berbagai macam manifestasi klinis penyakit-penyakit sirkukasi di Tanah Suci Makkah. Karena itu, sangat penting untuk meningkatkan ketahanan fisik jamaah dan petugas haji.

Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PB Perdosri) Tirza Tamin menjelaskan, jumlah jamaah haji Indonesia sangat tinggi dan diikuti dengan tantangan di bidang kesehatan. 

Baca Juga

"Maka diperlukan suatu pembinaan dan pelayanan kesehatan yang integratif sebagai bentuk perlindungan terhadap jemaah haji agar dapat melaksanakan ibadahnya sesuai dengan syariat," ujar Tirza dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Sabtu (19/3). 

Hal ini disampaikan Tirza saat menyampaikan sambutan dalam kegiatan Workshop Asesmen Fungsional Kesehatan Jamaah dan Petugas Haji yang digelar secara daring oleh PB Perdosri pada 12-13 Maret 2022. Melalui workshop ini, Perdosri akan memberikan instrumen formulasi asesmen fungsional kepada kedua kementerian pemegang kebijakan haji, yaitu Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama. Diharapkan hal ini dapat disosialisasikan kepada stakeholder yang mengelola haji secara interprofesional, dimulai dari pemeriksaan tingkat dasar, rujukan dan bahkan di embarkasi. 

Kapuskes Haji Kemenkes Budi Sylvana menjelaskan ritual keagamaan tanpa diikuti dengan persiapan fisik yang maksimal sangat riskan karena jamaah haji didominasi oleh lansia. Menurut dia, usia lanjut dan aktivitas yang tinggi merupakan salah satu penyebab kematian jamaah. 

"Hal ini perlu dikoreksi. Saya melihat dari segi keilmuan, Perdosri bisa membantu Kemenkes dan Kemenag," ucap Budi saat menjadi pembicara workshop.

Di acara yang sama, Kasubdit Bimbingan Jamaah Haji Kemenag Arsad Hidayat mengatakan Kemenag setiap tahun memiliki program bimbingan manasik haji. Namun, menurut dia, program ini harus dikoreksi kurikulumnya. 

"Terutama oleh teman-teman di bidang kesehatan, agar lebih pas dan dapat diterima oleh jemaah haji. Kami mengharapkan reformulasi kurikulum yang pas untuk diberikan ke jamaah haji dalam mempersiapkan keberangkatan," kata Arsad. 

Koordinator Pokja Kesehatan Haji PB Perdosri Syarief Hasan Lutfie menyampaikan bahwa Program Manasik Haji Komprehensif antara Kemenkes, Kemenag dan Perdosri diharapkan dapat meningkatkan pemahaman atau pengetahuan para jamaah dan petugas haji tentang aktivitas fisik selama ibadah haji. 

"Aktivitas fisik melibatkan semua organ tubuh manusia, sehingga perlu pengendalian penyakit sejak keberangkatan dari tanah air sampai di tanah suci," jelas Syarief. 

Dia mengatakan, pembinaan manasik haji dengan pembinaan kesehatan atau manasik fisik haji diharapkan dapat direalisasikan minimal tiga bulan sebelum keberangkatan haji, selama masa tunggu yang cukup panjang. Menurut dia, pembinaan kesehatan bisa dilakukan secara berkala, terpadu, melalui pembinaan yang bersifat komprehensif, baik aspek kesehatan maupun aspek spiritual, sehingga tercapai istithaah baik badaniah, maliah maupun amniah-nya.

Dia menambahkan, program ini tidak akan berhenti sampai diworkshop saja, namun ada empat prioritas dalam rencana tindak lanjut yaitu pelayanan kesehatan (asesmen/pembinaan), pelatihan (kurikulum/modul), produk kesehatan dan penelitian. 

“Realisasi yang kami harapkan adalah Dokter SpKFR dapat berperan dalam manasik haji, paling tidak tiga dari delapan kali manasik," kata Ketua SIG KFR Sosial ini.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement