Jumat 10 Sep 2021 15:44 WIB

Hujan Persisten Sebabkan Banjir di Kalteng dan Kaltim

Peningkatan intensitas hujan menyebabkan banjir di Kalteng dan Kaltim

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih
Sejumlah warga berjalan di area banjir yang menggenangi jalur trans Kalimantan Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, Kamis (9/9/2021). Sebanyak tiga titik banjir luapan Sungai Katingan dengan tinggi 30-60 centimeter itu merendam jalur trans Kalimantan Kasongan yang merupakan jalan nasional penghubung Palangkaraya dengan sejumlah Kabupaten/Kota di Kotawaringin Timur.
Foto: Antara/Makna Zaezar
Sejumlah warga berjalan di area banjir yang menggenangi jalur trans Kalimantan Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, Kamis (9/9/2021). Sebanyak tiga titik banjir luapan Sungai Katingan dengan tinggi 30-60 centimeter itu merendam jalur trans Kalimantan Kasongan yang merupakan jalan nasional penghubung Palangkaraya dengan sejumlah Kabupaten/Kota di Kotawaringin Timur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Hujan persisten yang dipicu oleh pertemuan gelombang Kelvin dan Rossby di atmosfer serta pembentukan pusat konveksi akibat anomali sirkulasi angin menyebabkan banjir di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Timur (Kaltim). Demikian keterangan menurut Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

"Suplai kelembapan yang tinggi juga terkonsentrasi di Kalimantan karena adanya penjalaran gelombang Kelvin dari barat yang bertemu dengan Rossby dari timur. Kondisi itu berkontribusi terhadap peningkatan intensitas curah hujan di wilayah Kalimantan," kata peneliti klimatologi dalam Tim Reaksi dan Analisis Kebencanaan (TReAK) Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN Erma Yulihastin.

Baca Juga

Sebagaimana dikutip dalam siaran pers Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Jakarta pada Jumat (10/9), Erma menjelaskan peningkatan intensitas hujan menyebabkan banjir di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah dan Timur sejak akhir Agustus 2021 hingga 2 September 2021.

Menurut dia, selama kurun itu 13 wilayah kecamatan di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah kebanjiran akibat hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur bagian hulu Sungai Katingan. Sistem peringatan dini bencana berbasis satelit SADEWA (Satellite-based Disaster Early Warning System) telah mendeteksi potensi hujan deras di wilayah KalimantanTimur dan Tengah berdasarkan pembentukan pusat-pusat konveksi yang dipicu oleh anomali sirkulasi angin di Kalimantan.

Erma menjelaskan penguatan angin dari selatan mengalami pembelokan ke arah timur laut di sekitar bagian barat Sumatra dan bertemu dengan angin dari selatan di wilayah Kalimantan. Kondisi tersebut memicu terbentuknya pusat konveksi di Kalimantan.

Di samping itu, kelembapan tinggi yang terkonsentrasi di Kalimantan karena adanya penjalaran gelombang Kelvin dari barat yang bertemu dengan Rossby dari timur berkontribusi terhadap peningkatan intensitas curah hujan di wilayah Kalimantan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement