Selasa 28 Mar 2023 16:54 WIB

Nova Arianto: Bila Piala Dunia U-20 tak Jadi di Indonesia, Mimpi Anak-Anak Muda Ini Hancur

Nova menyebut mental Garuda Muda kini terganggu di tengah ketidakjelasan.

Rep: Afrizal Rosikhul Ilmi/ Red: Gilang Akbar Prambadi
Pemain Timnas U-20 Indonesia Hokky Caraka (kanan) bersama rekan setimnya melakukan selebrasi seusai berhasil mencetak gol ke gawang Timnas U-20 Suriah dalam kualifikasi Grup A Piala Asia U-20 di Stadion Lokomotiv, Tashkent, Uzbekistan, Sabtu (4/3/2023).
Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Pemain Timnas U-20 Indonesia Hokky Caraka (kanan) bersama rekan setimnya melakukan selebrasi seusai berhasil mencetak gol ke gawang Timnas U-20 Suriah dalam kualifikasi Grup A Piala Asia U-20 di Stadion Lokomotiv, Tashkent, Uzbekistan, Sabtu (4/3/2023).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Asisten pelatih Timnas Indonesia Nova Arianto menyayangkan ketidakpastian terkait Piala Dunia U-20 2023 yang muncul akibat penolakan terhadap Timnas Israel. Nova mengatakan tidak seharusnya sepak bola dikaitkan dengan politik sehingga hal itu berpotensi menghancurkan mimpi anak-anak bangsa.

FIFA telah membatalkan drawing Piala Dunia U-20 yang seharusnya digelar di Bali pada 31 Maret 2023. Pembatalan itu terjadi sebagai buntut dari penolakan kehadiran Timnas Israel oleh Gubernur Bali I Wayan Koster dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Pembatalan drawing itu kemudian memunculkan kekhawatiran yang lebih jauh, di mana Indonesia terancam batal jadi tuan rumah ajang tersebut. 

Baca Juga

Nova mengatakan dinamika ini cukup berpengaruh pada persiapan tim. "Pastinya sangat berpengaruh ya terhadap persiapan, walaupun belum ada kepastian tapi kita bisa membaca dari media bahwa ada kemungkinan batal. Ini pastinya akan memengaruhi pemain secara mental di masa persiapan ini," kata Nova saat dihubungi republika.co.id, Selasa (28/3/2023).

Terlepas dari semua potensi yang tidak menyenangkan itu, Nova berharap Indonesia tetap bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023. Dia menilai para pemain sudah mempunyai motivasi yang kuat dan mimpi yang tinggi untuk bermain di ajang internasional yang diikuti oleh pemain-pemain muda yang hebat yang akan menjadi bintang masa depan.

"Kalau sampai terjadi ini artinya akan menjadi yang kedua kalinya, yang sebelumnya Rizky Ridho cs gagal tampil, masa sekarang Marselino (Ferdinand) dan Ronaldo (Kwateh) cs yang gagal tampil," kata Nova.

Menurutnya, sekecil apapun kemungkinan bagi Indonesia untuk tetap menjadi tuan rumah pada ajang tersebut, pihaknya akan tetap menaruh harapan agar skuad Garuda Muda bisa merasakan pengalaman bertanding yang belum tentu didapatkan oleh pemain-pemain lain. Pengalaman ini yang nantinya akan menjadi modal bagus untuk perkembangan sepak bola Indonesia. 

"Sekecil apa pun kemungkinannya, harapannya kita masih tetap jadi tuan rumah Piala Dunia U-20," tegas Nova. "Tapi Kekhawatiran pasti ada, mereka (pemain) pasti melihat dari media sosial walaupun secara resmi dari PSSI belum menyampaikan masalah ini, tapi kabar dari luar kaya pindah ke Peru dll membuat pemain khawatir dengan situasi ke depan," ujarnya menambahkan.

Dia menegaskan agar para pihak yang menolak kedatangan Timnas Israel mengerti bahwa ini adalah olahraga dan tidak semestinya dikaitkan dengan politik yang tak ada hubungannya sama sekali. Menurutnya, jika sampai Indonesia gagal menjadi tuan rumah, para pihak yang telah menolak kedatangan Timnas Israel itu harus tahu bahwa mereka telah menghancurkan mimpi anak bangsa.

"Kalau dari yang saya baca, ini sama saja berjuang bagi negara lain tapi mengorbankan mimpi anak-anak bangsa sendiri untuk tampil di Piala Dunia," kata Nova.  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement