Jumat 31 Mar 2023 16:00 WIB

'Masyarakat Cepat Lupa, Tapi Isu Timnas Isreal akan Terus Digoreng untuk Serang Ganjar'

Perlu survei untuk ukur apakah penolakan timnas Israel pengaruhi elektabilitas Ganjar

  Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam Rapat Koordinasi Menyambut Idul Fitri 1444 Hijriyah, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Jumat (31/3/2023). Ganjar belakangan berada dalam pusaran polemik menyusul batalnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023. (ilustrasi)
Foto: Dokumen
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam Rapat Koordinasi Menyambut Idul Fitri 1444 Hijriyah, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Jumat (31/3/2023). Ganjar belakangan berada dalam pusaran polemik menyusul batalnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Fauziah Mursid, Wahyu Suryana, Nawir Arsyad Akbar, Dessy Suciati Saputri

Pengamat Politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno mengatakan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjadi sosok yang paling banyak mendapat sentimen negatif dari warganet (netizen) di sosial media usai Indonesia dicoret FIFA sebagai tuan rumah Piala Dunia U20. Namun, apakah sentimen negatif warganet ini berpengaruh kepada elektabilitas Ganjar yang selalu memimpin dalam survei berkaitan Pilpres 2024, masih harus dibuktikan dengan data.

Baca Juga

"Saya tak mau berspekulasi. Apakah rujakan netizen dan sentimen negatif di media itu automatically berkoherensi dengan turunnya elektabilias Ganjar. Harus ada survei untuk mengukur itu semua. Tak bisa hanya berdasarkan asumsi atau praduga umum," ujar Adi dalam keterangannya kepada Republika, Jumat (31/3/2023).

Meski demikian Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia ini menilai, biasanya secara umum sentimen negatif berkolerasi positif dengan turunnya elektabilitas. "Tinggal diukur apakah turunnya signifikan atau tipis saja," ujarnya.

Hanya saja, Adi mengingatkan masyarakat Indonesia adalah tipe pemilih yang cepat lupa. Sehingga sentimen negatif semacam ini bersifat sesaat.

"Pemilih kita cepat lupa dan mudah memaafkan. Sentimen negatif semacam itu kadang hanya meletup sesaat saja. Yang jelas ini akan jadi gorengan politik untuk terus nyerang Ganjar," ujarnya.

Adi mencontohkan berbagai sentimen publik kepada tokoh maupun partai politik yang nyatanya tidak berpengaruh kepada keterpilihan saat pemilu. Mulai dari Golkar yang dinilai sebagai perpanjangan era Orba nyatanya Golkar menang pileg 2004, kemudian PDIP pada pemilu 2014 dan 2019 lalu dituding tidak ramah terhadap umat Islam, tetapi menang pileg dan pilres dua kali beruntun.

Begitu juga, Prabowo dan Gerindra yang sempat diprediksi terjun bebas setelah berkoalisi dengan Pemerintahan Presiden Joko Widodo, nyatanya tetap masuk dua besar survei. Selain itu, ada juga Ketua Umum dan Sekjen Golkar serta PPP yang berurusan dengan KPK pada waktu lalu, tetapi hasil pilegnya Golkar runner up perolehan suara di Senayan dan PPP lolos ke Senayan.

"Itu kejadian politik di kita. Betapa pendeknya memori pemilih. Apakah peristiwa politik lampau itu akan berlaku pada Ganjar masa mendatang. Atau malah sebaliknya. Waktu dan kerja politik yang bisa jawab," ujarnya.

Adi menyebutkan, ramainya aktivitas di medsos dan gemuruhnya pemberitaan media sering berbeda dengan realitas politik hasil pemilu. Sebab, kata dia, masalah yang terjadi di permukaan hanya sesaat dan isunya lekas berganti. Sementara, penentunya adalah meyakinkan pemilih jelang pencoblosan.

"Apalagi, banyak yang agresif di medsos tak ke TPS saat pemilu, hanya ramai di medsos seakan-akan dunia sudah ditaklukkan," ujarnya.

Berbeda dengan Adi, pengamat politik Dedi Kurnia Syah meyakini blunder Ganjar Pranowo yang menolak timnas Israel berlaga di Piala Dunia U20 menjadi petaka bagi elektabilitas kader PDIP tersebut. Hal ini karena sikap Ganjar tersebut dinilai publik sebagai salah satu penyebab batalnya Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan olahraga tersebut.

"Hal ini bisa diartikan sebagai petaka elektabilitas Ganjar, ia tidak mampu mengendalikan ambisinya sebagai tokoh yang sedang gandrung simpati, tetapi gagal menyatakan gagasan dan ide yang lebih besar," ujar Dedi kepada Republika, Jumat (31/3/2023).

Dedi menyebut, hal bisa terjadi pascasikap Ganjar di Piala Dunia U20, PDIP dan Ganjar bisa saja mendapat tambahan simpati dari kelompok pemilih pro Palestina. Hanya, kata Dedi, pemilih pro Palestina sudah cukup kuat di partai berbasis Islam seperti PKS.

"Sehingga upaya PDIP dan Ganjar justru akan dianggap sebatas mencari panggung di waktu yang tidak tepat. Situasi ini bisa saja simpati didapat, tetapi tidak menambah pemilih," ujar Dedi.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) ini melanjutkan, sebaliknya, pemilih PDIP yang selama ini lebih terbuka terhadap Israel justru mempertanyakan sikap PDIP yang tidak seperti biasanya. Bahkan untuk urusan Sepak Bola yang miliki jumlah penggemar cukup banyak, bisa berganti kecewa dengan sikap PDIP dan Ganjar tersebut.

"Artinya, simpati yang di dapat tidak menambah suara, pemilih loyal yang sudah ada cenderung kecewa dan meninggalkan Ganjar juga PDIP," ujarnya.

Dia juga menilai, situasi yang terjadi saat ini murni kesalahan Ganjar yang tidak dapat menimbang dalam mengeluarkan pernyataan. Apalagi, penolakan Ganjar menunjukkan dia tidak paham soal kolektifitas pemerintah.

"Memahami situasi itu, ini murni kesalahan Ganjar yang tidak menimbang dalam statement. Ganjar pun sebenarnya sebagai kepala daerah tidak miliki kewenangan terkait itu, Ganjar jelas hanya memikirkan nasib politiknya sendiri," ujarnya.

Selain itu, kata Dedi, gelaran Piala Dunia U20 yang seharusnya menjadi materi propaganda Jokowi di tengah situasi ekonomi yang memburuk penting untuk reputasi pemerintah. Sehingga kegagalan ini jelas mengecewakan bagi Jokowi.

"Dan PDIP dianggap sebagai dalang, maka relasi Jokowi dan PDIP bisa saja terganggu," kata Dedi.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement