Ahad 31 Mar 2024 19:41 WIB

Pebulutangkis Spanyol Sudah tak Takut Hadapi Olimpiade Tahun Ini

Olimpiade menjadi hal paling prestisius bagi atlet.

Carolina Marin of Spain in action against Yvonne Li of Germany (not pictured) during their second round women
Foto: EPA-EFE/BERTHA WANG
Carolina Marin of Spain in action against Yvonne Li of Germany (not pictured) during their second round women

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Tunggal putri Spanyol Carolina Marin mengatakan masih berambisi untuk merebut gelar juara Olimpiade lagi, pada pesta olahraga empat tahunan yang akan digelar di Paris, musim panas ini.

“Keinginan terbesar saya adalah memenangkan emas di Olimpiade 2024 Paris,” kata Marin, dikutip dari laman resmi Olimpiade, Ahad (31/3/2024).

Baca Juga

Peraih medali emas Olimpiade 2016 Rio itu menekankan, sportivitas dan ketekunan menjadi modal utamanya untuk mencapai target tersebut, terlebih, Marin telah bertahun-tahun menderita dua cedera lutut serius dengan masa pemulihan yang cukup memakan banyak waktu.

“Saya tidak tahu berapa persentase (penampilan) saya sejauh ini. Yang saya yakini, adalah saya akan berada dalam kondisi 100 persen untuk Olimpiade, saya tidak meragukannya,” ujar Marin.

Rasa percaya dirinya itu pun semakin bertumbuh setelah ia memenangkan sejumlah gelar tur BWF tahun ini, termasuk turnamen Super 1000 All England Open 2024, yang merupakan salah satu kejuaraan bulu tangkis paling bergengsi di dunia.

Lebih lanjut, Marín menjelaskan seperti apa proses yang membawanya dari rasa sakit dan penderitaan, menuju harapan dan kesuksesan baru.

“Apa yang saya lakukan terutama adalah bekerja keras pada aspek mental, percaya pada diri sendiri dan mendapatkan kembali kepercayaan diri dalam melakukan latihan yang baik,” katanya.

Lima tahun terakhir, Marin memiliki grafik yang fluktuatif. Sejak final Indonesia Masters 2019, ketika ligamen lutut kanannya robek, Marín menghadapi tantangan besar dalam memulihkan kondisi untuk kembali ke level terbaiknya.

Dua tahun setelah cedera dan ketika dia masih dalam proses pemulihan fisik dan kepercayaan diri, Marin kembali mengalami cedera yang lebih serius pada lututnya yang lain, yang tidak hanya merobek ligamen cruciatumnya tetapi juga kedua meniskusnya.

Dapat dimengerti bahwa kemunduran tersebut sulit untuk diatasi secara mental. Cederanya pada tahun 2021 membuatnya absen dari Olimpiade 2020 Tokyo.

Pada tahun 2022, Marín menambahkan seorang psikolog ke tim dukungannya.

“Aspek yang paling banyak saya kerjakan di level psikologis adalah emosi saya, mengeluarkan emosi. Setelah banyak bekerja dengan psikolog saya, baik di luar lapangan maupun di lapangan, melihat hal-hal apa yang bisa membuat saya merasa nyaman,” ungkap Marin.

Ia menilai, sering kali para atlet mengabaikan aspek kesehatan mental. Namun bagi Marin, ini adalah salah satu bagian mendasar dari tubuh.

“Dan kita tidak lagi hanya berbicara tentang bulu tangkis, tetapi juga tentang hal-hal lain di luar lapangan. Yang terpenting, percaya pada diri sendiri dan mendapatkan kembali kepercayaan diri telah menjadi kunci terpenting bagi saya,” ujarnya menambahkan.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement