Senin 29 Apr 2024 17:46 WIB

Redam Uzbekistan U-23, Timnas U-23 Harus Agresif Menekan Seperti Lawan Yordania dan Korsel

Timnas U-23 akan lolos ke Olimpiade Paris jika mengalahkan Uzbekistan U-23.

Pemain Timnas U-23 Indonesia Pratama Arhan melakukan selebrasi seusai berhasil melakukan tendangan penalti saat melawan Timnas U-23 Korea Selatan pada babak perempat final Piala Asia U-23 2024 di Stadion Abdullah bin Khalifa, Doha, Jumat (26/4/2024) dini hari. Indonesia melaju ke semifinal Piala Asia U23 setelah mengalahkan Korea Selatan lewat babak adu penalti.
Foto: Dok PSSI
Pemain Timnas U-23 Indonesia Pratama Arhan melakukan selebrasi seusai berhasil melakukan tendangan penalti saat melawan Timnas U-23 Korea Selatan pada babak perempat final Piala Asia U-23 2024 di Stadion Abdullah bin Khalifa, Doha, Jumat (26/4/2024) dini hari. Indonesia melaju ke semifinal Piala Asia U23 setelah mengalahkan Korea Selatan lewat babak adu penalti.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Frederikus Bata, wartawan Republika

DOHA -- Fokus penikmat sepak bola Tanah Air sedang teralih ke semifinal Piala Asia U-23 2024. Tim nasional Indonesia U-23 bejumpa Uzbekistan U-23 pada fase tersebut.

Baca Juga

Duel berlangsung di Stadion Abdullah bin Khalifa, Doha, Senin (29/4/2024) pukul 21.00 WIB. Garuda Muda bertemu salah satu favorit juara. 

Tim berjuluk Serigala Putih menorehkan statistik mentereng sejauh ini. Skuad polesan Timur Kapadze selalu menang dari penyisihan sampai babak delapan besar. Selama periode tersebut, Khusayin Norchaev dan rekan-rekan mencetak 12 gol dan belum kebobolan. 

Pada sesi konferensi pers, pelatih timnas Indonesia U-23, Shin Tae-yong mengaku sudah mengetahui kekuatan utama calon lawan mereka. Menurut STY, kelebihan Uzbekistan adalah dari sisi transisi. Antara bertahan ke menyerang, sangat cepat. Begitu juga sebaliknya.

STY enggan memberikan bocoran cara ia meredam Uzbekistan. Namun dari empat laga yang sudah dilalui, jalan terbaik Garuda Muda untuk unggul adalah agresif menekan sejak menit pertama sampai terakhir. Jangan sampai memakai strategi serangan balik atau dengan garis pertahanan rendah. Meski, ini menuntut stamina dan pergerakan oktan tinggi.

Mengapa demikian? Duel perdana lawan Qatar, tak masuk hitungan. Performa wasit yang buruk jadi salah satu penyebab Indonesia tumbang. Pada saat yang sama, STY belum menemukan komposisi ideal di lini tengah.

Menuju ke partai kedua, saat Garuda Muda menghadapi Australia U-23, Ivar Jenner absen. STY menarik Marselino Ferdinan ke gelandang tengah berdampingan dengan Nathan Tjoe-A-On. Indonesia U-23 menang 1-0. Namun, Garuda Muda keteteran. Witan Sulaeman dkk bahkan kalah jauh dari segi penguasaan bola.

Tak banyak tekanan yang dilakukan lini depan Indonesia U-23 ke pertahanan Australia U-23. 

Bukan rahasia lagi, jika pemain seperti Marselino bakal lebih maksimal jika ditempatkan di sektor gelandang serang atau winger.  Itu yang terlihat di pertandingan melawan Yordania dan Korea Selatan.

Hadirnya Nathan dan Ivar di area nomor enam membuat Marselino dan rekan-rekan di lini depan lebih bebas berkreasi. Bahkan pemain bertahan seperti Rizky Ridho Ramadhani dan Justin Hubner sesekali naik hingga ke kotak penalti lawan. Umpan terukur Rizky Ridho ke Witan berbuah gol cantik ke gawang Yordania. 

Berbagai alasan tersebut menjadikan Indonesia seperti menemukan polanya. Terlalu berbahaya jika mengincar serangan balik melawan Uzbekistan. Pasalnya kubu Serigala Putih bukan tim yang memainkan penguasaan bola dengan operan lambat.

Seperti yang dikatakan STY, kekuatan utama anak asuh Timur Kapadze adalah transisi. Saat kehilangan bola, mereka bisa dengan cepat menutup pertahanan. Oleh karena itu, Indonesia juga harus agresif melakukan pressing. Sehingga Jasurbek Jaloliddinov dkk tidak menemukan kenyamanan memainkan gaya sepak bola mereka.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement