REPUBLIKA.CO.ID,BENGKULU - Persatuan Sepak Bola (PS) Bengkulu terancam bubar karena sebagian besar pemainnya keluar akibat tidak dibayar gaji selama tujuh bulan.
"Kami tinggal menunggu pembayaran gaji dari Manajer PS Bengkulu, Hakman Novi. Setelah itu dibayar, seluruh pemain mau pulang ke daerah dan negara masing-masing," kata kiper PS Bengkulu, Burhanuddin, Jumat (13/5).
Kalau memang Manajer PS Bengkulu berat membayar gaji pemain sebanyak 26 orang selama tujuh bulan itu, bayar saja untuk gaji tiga bulan sehingga para pemain bisa pulang ke daerah masing-masing. Dari 26 pemain itu, sebanyak 19 di antaranya akan pulang kampung. Itu termasuk dua orang pemain asing, yaitu In kwan Yu (Korea Selatan) dan Pieter Lampade (Nigeria). Sedanggkan, lainnya mau pulang ke daerah di luar Bengkulu.
Para pemain itu mengaku sudah melaporkan masalah tersebut ke Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu. Mereka juga sudah bertemu Ketua Pengurus Cabang Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Kurnia Utama, yang juga Ketua DPRD Provinsi Bengkulu. Namun, tetap saja tidak ada solusi dari manajer.
Burhanuddin menilai manajemen PS Bengkulu nampaknya besar, tapi tidak ada struktur organisasi dan profesional. ''Saya lihat organisasinya sudah tidak beraktivitas lagi. Meja dan kursinya juga tidak ada,'' katanya. ''Manajemen PS Bengkulu tidak profesional sehingga persoalanya tidak kunjung selesai. Seharusnya manajemen duduk bersama dulu agar bisa menyelesaikan persolan para pemain.''