Jumat 12 Aug 2011 08:36 WIB

Duel Uang Versus Tradisi di Tanah Ratu Elizabeth

Rep: Abdullah Sammy/ Red: Didi Purwadi
Roman Abramovich
Foto: www.independent.co.uk
Roman Abramovich

REPUBLIKA.CO.ID,LONDON -  “Apabila (Roman) Abramovich membantu saya saat latihan, tim ini akan menjadi juru kunci kompetisi. Namun apabila saya membantu dia menjalankan bisnis besar klub, maka kami akan segera bangkrut.”

Begitu pernyataan yang sempat keluar dari mantan manager klub Liga Premier Inggris, Jose Mourinho, sebelum memutuskan hengkang dari persepakbolaan Ratu Elizabeth. Pernyataan bersayap Mourinho tidak terlepas dari kejengahan melihat tangan-tangan pemilik klub mulai mencampuri taktik dan strategi lapangan hijau.

Itulah potret yang terjadi di Liga Premier Inggris dalam satu dasawarsa terakhir. Sepakbola yang kini tidak sekedar kepentingan pendukung, pemain, atau, pelatih. Namun, kepentingan di atas meja bisnis para pengusaha papan atas dunia.

Tahun 2003 menjadi awal sejarah besar Liga Inggris yang bertransformasi sebagai panggung bisnis dunia. Klub sepakbola Inggris pun mulai berkembang dari sebuah tim tradisional (yang membentuk bakat sejak usia muda) menjadi klub transaksional (klub yang mengandalkan pembelian pemain top).

Kedatangan miliarder Rusia, Roman Abramovich, dengan dana tidak terbatas untuk Chelsea menjadi pondasi awal yang menghubungkan para kapitalis dengan lapangan hijau. Abramovich membuktikan bahwa kucuran poundsterling bisa menghadirkan piala di atas tanah Ratu Elizabeth. Gelar Juara yang berimbas pada citra Chelsea dari hanya tim lokal menjadi multinasional.

Angka penonton Liga Premier yang mencapai kisaran 600 juta pasang mata jadi daya tarik utama di balik prestasi klub. Tak pelak Chelsea jadi arena promosi citra bagi sosok Roman Abramovich di dunia.

Ikutan Bidik

Citra tersebut yang kini coba dicari taipan-taipan lain yang memutuskan mengikuti langkah Abramovich membidik klub Liga Premier. Salah satunya adalah Shiel Al Mansour di Manchester City.

Dana tidak terbatas dia gelontorkan untuk mendatangkan prestasi bagi tim gurem di pinggir kota Manchester itu. Musim panas 2010/2011, dia melabuhkan bakat utama sepakbola Eropa macam Yaya Toure, David Silva, dan Mario Balotelli ke kandang Manchester City.

Di saat Mansour mulai menanam modal untuk membangun citra klub, Abramovich sibuk memeras keuntungan dari investasinya di Chelsea. Chelsea pun membawa identitas baru bagi pria Rusia itu yang melambungkan namanya ke dunia.

Keuntungan yang mulai menggunung itu membuat Abramovic lebih pragmatis dalam mengurus klub. Tidak ada lagi dana jor-joran. Chelsea musim 2010-2011 hanya kedatangan bakat menegah seperti Ramires dan Yosi Benayoun.

Seretnya uang berdampak pada seretnya prestasi, Chlesea pun dibuat tertatih-tatih di pertengahan musim 2010-2011. Hal yang sama menimpa City. Nasib Mansour tak semujur Abramovich. City bahkan sempat terlempar dari persaingan empat besar.

Jaga Tradisi

Di tengah serbuan rival yang bermandikan poundsterling, Manchester United dan Arsenal tetap pada cara tradisonal mereka. Kedua klub mengandalkan sistem dan pembinaan usia muda sebagai kunci meraih sukses.

“Saya memiliki filosofi anggur. Menyimpan pada saat yang tepat. Tapi begitu anda rasakan anggur itu, anda akan tanya dari mana saya membelinya,” ujar Arsene Wenger yang mengumpamakan kebijakannya merekrut bakat muda berbakat dengan harga murah.

Kebijakan tradisional MU dan Arsenal dibuktikan dengan merajai Liga Primer Inggris sejak pertama kali diputar pada 1992. MU mampu mengepak 12 titel, sementara Arsenal tiga gelar.

Hanya Chelsea dan Blackburn Rovers yang  mampu memecah dominasi dua klub 'merah' itu. Chelsea dengan Abramovich-nya sukses menyamai pencapaian Arsenal dengan tiga gelar. Sedangkan, Blackburn beruntung dengan sebuah gelar yang diraih pada 1994.

Berpatokan pada sistem klub, MU dan Arsenal mampu menandingi hegemoni kekuatan uang para pengusaha. Akhir musim 2010/2011 jadi pembuktian. MU jadi juara liga Inggris. Sementara Arsenal walau tertatih masih mampu mengamankan tiket Liga Champions.

kekuatan Uang

Kendati kekuatan tradisional mampu memenangkan kompetisi, daftar klasemen akhir kembali memberi gambaran bagaimana kekuatan yang mampu dihadirkan oleh uang para pengusaha. Klub sekota MU, Manchester City, akhirnya bangkit di akhir kompetisi. “Mereka (City) kini semakin kuat dan bisa menjadi ancaman bagi tim mana pun,” kata bek MU, Chris Smalling, mengomentari kebangkitan City

Uang Mansour mampu mengantar tim asuhan Roberto Mancini ini menduduki peringkat tiga dan memastikan lolos ke Liga Champions di akhir musim 2011. City pun kini bertransformasi dari klub gurem yang dipandang sebelah mata jadi klub raksasa yang berpeluang jadi juara.

Pun halnya Chelsea yang menemukan angin baru usai disuntik fulus Abramovich untuk mendatangkan Fernando Torres dan David Luiz. Chelsea mengakhiri kompetisi musim 2010/2011 di peringkat dua dan menempel ketat sang juara Manchester United.

Sebuah kenyataan bagi sepak bola Inggris bahwa pertarungan klub tradisional versus klub para taipan tetap akan menghiasi Liga Premier musim 2011/2012. Pertarungan yang akan berlangsung dari titik awal antara 20 tim terbaik di daratan Inggris Raya.

sumber : Dailymail/Independent
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement