REPUBLIKA.CO.ID, JOHANNESBERG - Tim nasional Mesir, pemilik rekor juara terbanyak, yakni sebanyak tujuh kali, akan absen di saat undian putaran akhir kualifikasi Piala Afrika 2013. Undian akan dihelat di Afrika Selatan dan dilangsungkan pada Kamis (5/7).
Tim "Para Firaun", yang ketujuh gelar juaranya termasuk tiga gelar berturut-turut pada 2006 dan 2010, disingkirkan tim Republik Afrika Tengah pada akhir pekan silam. Mesir dipaksa bermain imbang 1-1 di Bangui, namun dampak kekalahan 2-3 yang mereka derita di Alexandria dua pekan sebelumnya, membuat Mesir harus menerima dampak terburuk.
Kekalahan dengan selisih 3-4 membuat Mesir absen untuk kedua kalinya, sejak turnamen tersebut diluncurkan 55 tahun silam di ibukota Sudan, Khartoum. Situasi itu juga menjadi pukulan keras bagi panitia penyelenggara Piala Afrika di Afrika Selatan, yang akan lebih mudah "menjual" nama-nama seperti Essam Al Hadary dan Mohamed Abou Treika ke masyarakat, ketimbang Foxi Kethevoama dan Hilaire Momi.
Kiper Al Hadary dan gelandang Abou Treika sangat populer di kalangan penggemar sepak bola di Afrika selama lebih dari satu dekade, sedangkan Kethevoama dan Momi kurang dikenal di luar negeri. Selain Mesir, juara 1972 Kongo, merupakan satu-satunya bekas juara yang gagal mendapat tempat di putaran final Piala Afrika 2013, setelah menang dengan selisih dua gol di pertandingan pertama, namun takluk 0-4 di Uganda pada bulan lalu.
Afrika Selatan otomatis lolos untuk ajang yang akan berlangsung pada 19 Januari sampai 10 Februari 2013 ini, dan sebuah kompleks hiburan besar di dekat bandara internasional Johannesburg akan membelah 30 negara ke dalam 15 pertandingan kandang-tandang.
Juara bertahan Zambia memuncaki daftar 15 negara unggulan,, yang juga memasukkan Aljazair, Angola, Burkina Faso, Kamerun, Equatorial Guinea, Gabon, Ghana, Guinea, Pantai Gading, Mali, Maroko, Nigeria, Sudan, dan Tunisia.
Negara-negara non-unggulan adalah Bostwana, Kepulauan Cape Verde, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, Liberia, Libya, Malawi, Mozambik, Niger, Senegal, Sierra Leone, Togo, Uganda, dan Zimbabwe.
Selain pemisahan unggulan dan non-unggulan ini, akan terdapat undian untuk menentukan negara mana yang mendapat keuntungan bermain kandang di putaran akhir, yang dijadwalkan berlangsung pada akhir pekan 7-9 September dan 12-14 Okrtober tahun ini.
Guinea Equatorial menduduki peringkat ke-31 di Afrika, dan merupakan unggulan terlemah - posisi yang mereka dapat berkat keberhasilan mencapai babak delapan besar Piala Afrika 2012, ketika mereka bertindak selaku tuan rumah bersama Gabon.
Tim-tim non-unggulan yang berharap dapat dihindari adalah Libya (peringkat 4), Senegal (12), Republik Afrika Tengah (22), dan Ethiopia (39), negara dengan peringkat terendah yang berhasil menembus putaran akhir.
Situasi yang terlihat aneh, yakni Libya menjadi tim non-unggulan sedangkan Equatorial Guinea menjadi unggulan, dijelaskan oleh panitia penyelenggara sebagai hasil pertimbangan dari tiga turnamen Piala Afrika terakhir, dan bukan mengacu pada peringkat FIFA.
Libya awalnya direncanakan menjadi tuan rumah Piala Afrika 2014, namun karena pemberontakan untuk melengserkan Moamer Khadafi menyebabkan kerusakan infrastruktur, maka Afrika Selatan yang awalnya direncanakan menjadi tuan rumah pada 2017 mendapat tanggung jawab ini.
Turnamen ini digelar setiap dua tahun sejak Ethiopia menjadi tuan rumah pada 1968. Piala Afrika digeser ke tahun ganjil sejak tahun depan untuk menghindari 'bentrokan' dengan Piala Dunia.