REPUBLIKA.CO.ID, ROMA -- Cinta dan benci agaknya memang hanya terpisahkan jarak setipis kertas. Hal itulah barangkali yang sedang dirasakan oleh Presiden Bologna, Albano Guaraldi. Ia mengaku menyesal telah membeli klub berjuluk Rossoblu tersebut.
"Andai bisa memutar waktu, saya mungkin tidak akan mengambil keputusan yang sama untuk membeli saham mayoritas klub," kata Albano seperti dilansir laman Football Italia.
Kekecewaan Albano memuncak ketika kelompok suporter Bologna melakukan aksi protes keras terhadapnya. Kelompok fans garis keras tersebut geram dengan kebijakan transfer Albano yang menjual beberapa pemain bintang seperti GastonRamirez dan Daniele Portanova.
Kemarahan fans memuncak ketika ia menjual Saphir Taider di akhir-akhir bursa musim panas lalu.
Guaraldi adalah salah satu tokoh penggerak konsorsium yang menyelamatkan Bologna dari krisis finansial pada 2010. Setahun kemudian, pengusaha yang sukses di sektor konstruksi itu membeli saham mayoritas klub.
"Saya menerima jabatan sebagai presiden klub dengan antusiasme tinggi tanpa berpikir itu akan menimbulkan ekspektasi tinggi fans. Sekarang mereka berbalik memprotes saya," ungkap pria usia 54 tahun itu.
Aksi protes fans tersebut dinilai Guaraldi sudah sangat berlebihan. Menurut dia, aksi tersebut telah merusak hubungan antara manajemen klub dan para suporter. Ia mengaku tak yakin mampu memperbaiki hubungan tersebut.
Tak mau dipusingkan terlalu lama, Guaraldi menyatakan ingin menjual saham mayoritasnya di Bologna. "Klub ini dijual jika ada pihak yang serius dan terpercaya mampu mengembalikan uang yang telah kami tanam," ujarnya.
Media Italia menyebut sejumlah investor dari Cina tertarik mengakuisisi saham Guaraldi.