REPUBLIKA.CO.ID, MILAN — Javier Zanetti mengisahkan pengalamannya memperkuat Inter Milan mulai musim 1995 lewat autobiografi. Dia direkrut Inter dari klub Argentina, Banfield. Salah satu yang menjadi sorotan kapten La Benemata tersebut adalah sosok pelatih terbaik dan terburuk.
“Roberto Mancini adalah pelatih yang memulai era baru dan dia melakukan pekerjaan luar biasa. Marcello Lippi memberikan segalanya yang dia butuhkan untuk membuat sebuah tim hebat, sayangnya, itu tidak bekerja dengan baik. Itu bukan kesalahannya,” ujar Zanetti dikutip Football Italia.
Dia paling sedih ketika pelatih Hector Cuper (2001-2003) dipecat Presiden Massimo Moratti. Cuper didatangkan dari Valencia setelah membawa klubnya menjadi finalis Liga Champions dua kali. “Saya sangat sedih pada waktu Hector Cuper mengakhiri kebersamaan dengan Inter. Dia seorang yang andal dan mampu, yang sayangnya harus membayar kegagalan pada 5 Mei, ketika kami kehilangan Scudetto.”
Menurut pemilik 145 caps bersama Tango itu, pelatih terburuk adalah Marco Tardelli (2000-2001). Legenda timnas Italia tersebut didatangkan sebagai pengganti Lippi. “Itu adalah tahun yang sulit bersama dia. Kami kalah 0-6 di derby Milan dan sesuatu pecah pada hari itu. saya tidak tahu jika dia benar-benar pelatih terburuk, tapi saya suka dia,” ungkap pemain berusia 40 tahun itu.
Zanetti menyebut, pelatih sukses bersamanya adalah Jose Mourinho. Didatangkan pada 2008, The Special One menjadikan Nerazzurri sebagai tim tangguh. Setelah meraih Scudetto dan Coppa Italia pada musim pertamanya, Mourinho mempersembahkan treble winners pada musim 2009/2010.
Zanetti melanjutkan, perjalanan Inter meraih Liga Champions sebenarnya sangat berliku. Ketika tertinggal 0-1 dari Dynamo Kiev pada babak pertama, otomatis Inter bisa gugur di fase grup.
“Dia berkata kepada kami akan pergi untuk menang dan harus mengambil risiko segalanya. Dia melepas dua bek untuk digantikan dua penyerang dan kami menang,” kata Zanetti. “Mourinho adalah pemenang yang mengurus setiap detail dan dua tahun bersamanya akan selalu diingat hari setiap Interisti.”