REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Direktur Teknik Semen Padang FC, Asdian menilai pembekuan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI terhadap Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), kurang tepat. Menurutnya, keputusan pembekuan PSSI tidak mempunyai alasan yang kuat.
"Kami nggak paham alasannya seperti apa. Karena misal dikatakan Arema dan Persebaya jadi sumber masalah, itu kan masalah internal mereka," kata dia kepada ROL di Padang, Selasa (21/4).
Ia mengatakan, persoalan Arema dan Persebaya seharusnya diselesaikan di PTUN. Permasalahan dua klub tersebut, ujar Asdian, tak bisa diselesaikan dalam waktu singkat misalnya dua minggu.
Asdian menuturkan, jika alasan pemerintah terkait pembekuan ini adalah perbaikan, justru sebaiknya pemerintah yang turun tangan. Pemerintah harus ikut mendorong adanya perbaikan tersebut.
Dikatakannya, menjelang kompetisi, masing-masing tim seharusnya sudah mempersiapkan segala permasalahan jauh-jauh hari. Jika tiba-tiba terjadi pembekuan PSSI, yang rugi adalah pemain sepakbola. "Pemain itu kalau tak main, nanti tak hidup. Harusnya (PSSI) berpikir jauh. PSSI tak mungkin selesaikan dalam waktu dua minggu," tutur dia.
Kemenpora, menurut dia, harus dapat memahami kesulitan situasi yang mendasar. Sebab, dikhawatirkan adanya pembekuan PSSI, justru menjadi bahan tertawaan dunia internasional.
"Kok Indonesia begini yah. Artinya Indonesia tak bisa selesaikan pesoalannya sendiri," ujar Asdian.
Asdian berharap, PSSI dan Kemenpora dapat duduk bersama menyelesaikan konflik ini. Sebab, imbas dari konflik ini adalah masyarakat sepakbola Indonesia yang merugi berat.