REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Sepak bola Budiarto Shambazy menilai hasil putusan sela PTUN terkait pembatalan SK Kemenpora No 01307 telah menyebabkan dualisme kepengurusan persepakbolaan di Tanah Air.
Shambazy mengatakan PSSI yang sebelumnya sudah dibekukan, kembali bisa dinyatakan aktif sementara hingga menunggu hasil final. Sementara di sisi lain, Kemenpora pun masih kukuh agar tim transisi bisa mengambil alih tugas PSSI, meki saat ini aktifitas tim transisi tengah berhenti sementara waktu.
"Keputusan sela walau itu sementara, itu menyebabkan dualisme lagi, ini seperti kejadian LSI dan LPI. Siapa yang memegang kompetisi itu, jadi ini makin membuat kisruh persepakbolaan kita," kata Budiharto saat dihubungi Republika Online (ROL), Kamis (27/5) siang.
Budiharto mengatakan Kemenpora bisa melakukan banding. Namun, ia menyarankan agar Kemenpora tetap menghentikan aktifitas tim transisi hingga hasil final di PTUN.
Budiharto mengatakan meskipun ada opsi tiga yakni mengambil jalan tengah dengan melakukan revisi, kata Budiarto bukan berarti sepakbola tanah air bisa dipegang oleh dua kepengurusan sekaligus yakni tim transisi dan PSSI. Menurutnya harus ada salah satu pihak yang mengalah.
"Ini tidak bisa dua-duanya memegang. Tim transisi di atas PSSI atau PSSI di atas tim transisi, harus mengorbankan salah satunya. Sekarang tim transisi dihentikan aktifitasnya karena menghormati PTUN, setelah banding, diterima bisa saja terjadi (tim transisi diakifkan lagi)," kata Budiharto.