Sabtu 22 Aug 2015 11:19 WIB

Sementara Pep Guardiola Masih Unggul

Guardiola
Foto: mirrorfootball.co.uk
Guardiola

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Frederik Bata

Gol spektakuler bek Athletic Bilbao San Jose merobek gawang Barcelona yang dikawal Ter Stegen. Sang kiper terlampau maju sehingga tak mampu membendung tendangan jarak jauh pemain berusia 26 tahun itu.

Hingga akhirnya hat-trick Aritz Aduriz melengkapi kehancuran El Barca. Pada Sabtu, (15/8) dini hari WIB, stadion San Memes jadi saksi tuan rumah menggulung peraih treble winners empat gol tanpa balas. Pertandingan itu terjadi pada leg pertama Piala Super Spanyol 2015. Bilbao sendiri sukses meraih trofi setelah unggul agregat 5-1. Pada second leg, skuat besutan Ernesto Valverde mampu menahan Blaugrana di Camp Nou dengan skor 1-1.

Itulah gambaran singkat dari petaka Barcelona yang memiliki //background// sebagai raja segala kompetisi di musim lalu. Menjadi sebuah ironi jika berkaca pada hasil tiga hari sebelumnya, dimana Lionel Messi dan kawan-kawan mampu meraih trofi Super Eropa usai menjungkalkan Sevilla FC dengan skor 5-4.

Sebagai gambaran, Piala Super Spanyol dan gelaran Super Eropa adalah kompetisi satu laga yang merujuk pada hasil musim sebelumnya. Sehingga dengan kata lain koleksi gelarnya dianggap satu paket. Masih ada satu event lagi, yakni Piala Dunia antar klub. Nama terakhir ini melibatkan semua kampiun konfederasi.

Jadi secara keseluruhan sebuah tim asal Spanyol yang meraih treble berpotensi mendapat tiga gelar tambahan menjelang kompetisi musim berikutnya. Sepanjang sejarah hanya Barcelona yang bisa mendapat enam gelar dalam satu tahun. Itu terjadi pada masa kepelatihan Josep Guardiola pada 2009. Sebuah rekor manis bagi arsitek yang akrab disapa Pep itu.

Kini era Pep telah berlalu. Muncul nama Luis Enrique sebagai idola baru publik Katalan. Banyak kesamaan dari dua pelatih itu. Baik Guardiola maupun Enrique pernah berstatus kapten El Barca semasa aktif menjadi pemain. Dua tokoh tersebut juga masuk dalam kategori penggiat lapangan hijau yang menjadi kampiun Eropa baik sebagai pelatih maupun sebagai pemain. Teranyar, Pep dan Luis adalah entrenador yang berhasil mempersembahkan treble winners di musim perdana mereka bekerja di Barcelona.

Kategori di atas membuat perbandingan antara keduanya jadi tak terbendung lagi. Publik dibuat bertanya-tanya siapa yang terbaik antara Pep dan Enrique? Sederhana saja menjawabnya. Kalau ukurannya juara dalam satu paket (enam gelar semusim), maka Pep jelas di atas. Enrique sudah kehilngan satu trofi pascadibabat Bilbao.

Ukuran lainnya adalah, simbol akademi La Masia. Sebuah sepak bola asli Barcelona, kebanggan masyarakat Katalan, yang gemar mencetak barang lokal. Kali ini kembali Pep unggul. Kita bisa melihat nama-nama seperti Pedro Rodriguez, Messi, Andres Iniesta, dan lain-lain adalah jebolan La Masia yang kian berkembang di era Pep. Sementara Enrique cenderung memakai barang jadi dari luar seperti Neymar, Luis Suarez, dan Ivan Rakitic.

Namun, sisi lebih seorang Enrique adalah pada tantangan tim. Di era kepelatihannnya, hampir semua klub top Eropa memiliki skuad mumpuni. Ada Real Madrid, Bayern Muenchen, Paris Saint Germain, Juventus. Ketika semua lawan itu dilibas, seakan menjadi oase di padang gurun. Ya, sepeninggal Guardiola, Barca mengalami penurunan di era Tito Vilanova dan Gerardo Martino hingga akhirnya muncul nama juru taktik berusia 45 tahun itu.

Perbandingan terakhir adalah pada filosofi permainan. Pep muncul dengan gaya tiki-taka dan pressing game ketat. Terlihat empat bek sejajar naik hingga garis tengah. Pada proses gol pun masih mementingkan kerja sama tim sampai di depan gawang lawan. Sementara Enrique terkadang memakai umpan crossing atau tendangan dari luar kotak penalti. Pada prinsipnya semua tetap mengandalkan penguasaan bola.

Pada titik ini kembali Guardiola menancapkan tajinya. Ia bisa bermain nyaris sempurna dan berujung trofi. Filosofi sepak bola indah ala katalan tetap dipertahankan. Sementara Enrique lebih mementingkan efektifitas dan terkadang skill individu pemain lebih ditonjolkan. Meski pada faktanya eks juru taktik AS Roma itu juga mempersembahkan gelar prestisius.

Kesimpulannya untuk sementara Pep masih unggul. Kendati demikian, masih banyak waktu bagi Enrique untuk bereksprimen. Setidaknya empat gelar di musim perdana jadi modal berharga bagi juru taktik yang juga pernah memperkuat Real Madrid itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement