REPUBLIKA.CO.ID, Real Madrid babak belur pada paruh pertama musim La Liga. Los Blancos menempati posisi keempat klasemen, terpaut hingga 19 angka di belakang Barcelona dalam perburuan gelar La Liga.
Seiring paruh pertama musim La Liga berakhir, Zinedine Zidane tampaknya tidak memiliki solusi atas kemunduran timnya. Sebuah kekalahan kandang melawan Villarreal memperburuk krisis, dengan jarak sekarang makin melebar antara Madrid dan tiga besar, yakni Barcelona, Atlético Madrid, serta Valencia.
Laman AS menuliskan sembilan alasan untuk penyebab terpuruknya Real Madrid. Berikut catatannya:
1. Poin hilang di Bernabeu
Jika hanya pertandingan kandang yang dihitung di liga, Real Madrid akan berada di posisi keenam, sejajar dengan Eibar. Madrid telah memenangkan lima pertandingan di kandang sendiri, imbang dua (melawan Valencia dan Levante), dan kalah tiga kali (melawan Betis, Barcelona, dan Villarreal). Ini adalah pertama kalinya sejak Mei 2009 - ketika Juande Ramos menangani tim- Madrid telah kalah dua pertandingan liga berturut-turut di kandang sendiri (Barcelona dan Villarreal).
2. Para penyerang miskin gol
Belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah La Liga Madrid memiliki pencetak gol terbanyak dengan hanya empat gol atas namanya setelah 18 pertandingan. Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, Isco, dan Marco Asensio masing-masing mencetak empat gol, dan tidak ada pemain Madrid di antara 25 pencetak gol terbanyak di La Liga. Karim Benzema bahkan hanya mencetak dua gol di liga, sementara Ronaldo memiliki delapan gol lebih sedikit dari waktu yang sama musim lalu.
3. Cedera Gareth Bale
Real Madrid harus menghadapi paruh pertama musim ini tanpa pemain yang biasanya merupakan bagian integral tim. Pemain internasional Wales telah melewatkan sembilan pertandingan LaLiga. Bale telah diganti dalam lima dari delapan pertandingan Liga di mana ia menjadi starter. Dia tampil pada laga el Clásico, tapi hanya dari bangku cadangan.
4. Marcelo merosot
Sang bek kiri terlihat kelelahan secara fisik dan menderita. Kedatangan Theo Hernández belum memperbaiki performa Marcelo karena terus menjadi pilihan pertama dari pelatih Zinedine Zidane. Marcelo gagal meredam serangan balik Villarreal di Bernabéu yang berbuah gol dan dia sedikit berkontribusi pada sisi ofensif Madrid. Dari 16 umpan yang dilepas ke kotak penalti, hanya tiga yang menemukan rekannya. Sebagian besar dari hanya mengenai tubuh Mario Gaspar, bek kanan Villarreal.
5. Zidane terlambat bereaksi
Sang pelatih terus menempatkan kepercayaannya pada sekelompok pemain terpilih. Marcelo, Kroos, Modric, dan Benzema semuanya tengah menurun, tapi tetap dipertahankan di dalam tim. Zidane telah menolak kemungkinan terjun ke bursa transfer Januari setelah mengatakan tidak untuk pembelian striker baru pada musim panas. Sekarang dia membayar keputusannya. Zidane masih bertahan dengan kebijakan pergantian pemain. Dia jarang melakukan perubahan sebelum menit ke-70.
6. Perekrutan musim panas yang buruk
Theo Hernández (713 menit), Jesús Vallejo (449), Marcos Llorente (528), Dani Ceballos (531), dan Borja Mayoral (527) adalah pemain dalam skuat yang paling sedikit bermain. Semua masuk ke skuad pada musim panas. Zidane hanya memberi mereka kesempatan di Copa del Rey. Padahal mereka tidak selevel dengan Pepe, James Rodríguez, atau Alvaro Morata, yang hijrah musim lalu.
7. Hilangnya gol menit akhir
Pada musim 2016/17 Real Madrid terkenal dengan kemampuan mencetak gol telat. Kita biasa mengharapkan gol menit akhir, terutama dari kepala Sergio Ramos. Musim ini, justri Madrid telah menjadi korban gol seperti itu. Villarreal mencetak gol kemenangan mereka pada menit ke-88, sementara Madrid belum mencetak gol di liga setelah menit ke-86.
8. Kekalahan pada El Clásico
Barcelona meraih kemenangan 0-3 di Bernabéu, dan itu memberi pukulan signifikan bagi semangat Madrid. Keputusan Zidane untuk menempatkan Kovacic dalam peran defensif daripada Isco di belakang striker dikritik Madridistas, terutama karena Los Blancos sangat membutuhkan tiga poin. Itu menjadi pengakuan inferioritas Madrid atas rival abadi mereka.
9. Fokus pada Piala Super
Real Madrid mengalahkan Manchester United untuk memenangkan Piala Super Eropa dan Barcelona untuk memenangkan Piala Super Spanyol. Ini memberi kesan bahwa semua pekerjaan pada pramusim difokuskan pada dua pertandingan tersebut, dan sekarang tim tersebut tampak lesu setelah musim panas yang berat.