Ahad 29 Jul 2018 04:23 WIB

Dari ‘Gajah Lampung’ Bertelur Juara Dunia

Padepokan Angkat Besi Gajah Lampung yang melahirkan juara dunia berusia 58 tahun.

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Ratna Puspita
Suasana latihan di Padepokan Angkat Besi Gajah Lampung.
Foto: REUTERS/Beawiharta
Suasana latihan di Padepokan Angkat Besi Gajah Lampung.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Mursalin Yasland, Wartawan Republika

Saat itu, 58 tahun silam, banyak orang tak menyangka kalau Imron Rosadi bertangan dingin. Bekas kepalan tangannya sebagai mantan atlet angkat besi (lifter) ternyata mampu menggetarkan bumi nusantara dan bahkan dunia. 

Padepokan angkat besi yang awalnya dibangun dengan modal seadanya, sekarang diperhitungkan banyak pihak. Sudah tak terhitung lagi berapa kali Bendera Merah Putih berkibar di belahan dunia untuk mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia pada ajang olahraga angkat besi (weightlifting) dan angkat berat (powerlifting). 

Prestasi demi prestasi yang diraih atlet binaan padepokannya adalah capaian bersama, bukan satu pihak. “Padahal, awal buka padepokan banyak yang tidak berminat, apalagi anak sekolahan,” kata Imron Rosadi (73 tahun) pemilik Padepokan Angkat Besi “Gajah Lampung” kepada Republika di Pringsewu, Lampung, Jumat (27/7). 

Padepokan tersebut yang berada di Jalan Ahmad Yani terkenal di masyarakat Kabupaten Pringsewu. Ia terpaksa mencari ke sana kemari bibit-bibit atlet yang bisa dibina di padepokan sekitar tahun 1960-an. 

Biar padepokan berjalan, ia menawari anak muda yang bekerja sebagai buruh, tukang becak, tukang rongsok, pemulung, yang memiliki postur tubuh lumayan untuk diajak berlatih. Mengapa kalangan marjinal? Menurut dia, kalau anak sekolahan atau pelajar tidak mau diajak olahraga berat seperti angkat besi. 

“Tahun 1970-an baru berjalan padepokan. Anak-anak mulai berlatih,” ujarnya mengenang.

Bibit-bibit atlet dari kalangan seperti itu, menurut dia, malah memiliki keuntungan kedua belah pihak. Di satu sisi, anak muda tersebut mendapat kegiatan tetap dan mendapat imbalan gratis, di sisi lain pengasuh dapat membentuk jiwa dan mental atlet lebih tangguh pantang menyerah tidak manja dan malas.

Berkat ketekunannya mengelola Padepokan Gajah Lampung, banyak sudah atlet binaanya yang menyandang juara dunia pada sejumlah event kejuaraan internasional, termasuk olimpiade. “Mereka yang juara dunia dari sini itu, sebelum direkrut rata-rata kerja serabutan,” tuturnya.

Imron memang ikhlas. Atlet binaannya ia “manjakan” di padepokan. Berlatih dengan peralatan canggih gratis, menginap di asrama dua lantai yang memiliki belasan kamar, makan bergizi tiga kali yang juga gratis. “Nah, selain itu dapat uang saku lagi. Coba kenapa? Kurang apa lagi,” katanya sembari tertawa.

Mungkin modal pelatihan seperti itu yang membuat padepokan tersebut menelurkan juara dunia. Menurutnya, berbeda dengan pelatnas-pelatnas atau sarana pembinaan atlet lain yang harus menunggu kucuran anggaran baru bisa berlatih. 

Ia tidak segan-segan mengeluarkan biaya dari koceknya bila ada kekurangan di sana sini, asalkan atlet binaannya terlengkapi kebutuhannya. “Saya tidak sama dengan Bob Hasan (Pembina atlet atletik). Dia kaya, pengusaha. Saya apalah jauh dari Bob Hasan. Tapi saya cuma punya tekad atlet saya harus berprestasi semua kita carikan dananya,” ujar Imron yang sehari-hari dikenal kerap menggunakan celana pendek dan kaos oblong putih.

Menurut dia, membina atlet dari bibit menjadi juara dunia, gampang-gampang susah tapi menyenangkan. Intinya, ungkap dia, atlet binaan jangan dibuat pusing dengan masalah keuangan, rumah tangga, dan pekerjaan.

“Untuk mencari bibit atlet yang unggul tidaklah mudah. Dari 100 lifter binaan, belum tentu dapat satu yang terbaik, apalagi hanya 10 orang,” ujarnya. 

Yang penting lanjut dia sembari mengeluarkan resepnya,  “Tugas atlet itu berlatih intensif, kebutuhan jasmaninya lengkap, soal dananya kita yang carikan bukan urusan atlet.”

Padepokan Angkat Besi Gajah Lampung saat ini sudah berusia 58 tahun. Setiap hari pengasuh padepokan harus menyiapkan perlengkapan dari bangun tidur hingga tidur kembali di asrama. 

Makan sehat dan bergizi harus ada tiga kali sehari untuk sekitar 50 orang atlet di asrama dengan 20 kamar. Sedikitnya ia harus mengeluarkan Rp 1,5 miliar per bulan untuk padepokannya. 

Dana itu di antaranya untuk akomodasi,, konsumsi, suplemen, sekolah, dan keperluan atlet lainnya.  “Tak lupa kami menyiapkan uang saku untuk atlet Rp 100 juta per bulan,” terangnya.

Ia mengatakan masalah makan saja menjadi penting. Sebab, kalau atlet satu kali saja tidak makan siang, mereka tidak bisa mengangkat besi. 

Berbeda dengan atlet cabang olahraga lain masih bisa diusahakan untuk berlatih. “Padepokan ini punya beban, yakni prestasi dan pastinya juara dunia,” katanya.

Lalu, dari mana dana sebesar itu menghidupkan padepokan hingga 50 tahun lebih? Imron mengatakan, selain menghidupan padepokan dari uang sendiri juga mendapat bantuan dari relasi dan pemerintah. 

Ia sehari-hari juga mengelola usaha yang dibantu anaknya mulai bisnis mobil bekas, jam tangan, dan hasil bumi. “Akan tetapi, saya tidak pernah minta-minta bantuan ke sana kemari termasuk kepada pemerintah. Ini prinsip. Kalau ada yang bantu kami terima, kalau tidak ya tidak apa-apa,” tuturnya.

Pantaslah padepokan ini sudah menelurkan para juara dunia sejati pada berbagai ajang kejuaraan angkat besi dan angkat berat dunia. Sebut saja nama besar juara dunia angkat besi alumni Gajah Lampung; Sutrisno, Lisa Rumbewas, Jadi Setiadi, Sri Wahyuni Agustiani, Eko Yuli Irawan, Triyatno, dan banyak lagi atlet juara jebolan padepokan tersebut. 

Imron, terlahir dengan nama Liu Nyok Siong, tak segan-segan mengeluarkan duit pribadinya untuk mengirim atlet-atletnya berlaga di luar negeri. Bahkan, Imron pun tetap terus berjuang agar masa depan atlet pascajuara dunia memiliki masa depannya. 

Setelah padepokan berputar 68 tahun tanpa henti, alumninya sudah banyak yang masa depannya terjamin. Tercatat, ada 20 orang menjadi pegawai negeri sipil di antaranya, Sutrisno, Jadi Setiadi, dan istri Jadi yang juga atlet angkat besi. 

Pegawai honor 10 orang, lima orang pegawai Kantor Pos dan Giro, dan empat orang berprofesi guru. “Semua itu, kami yang gencar merekomendasikan mereka ke berbagai instansi,” kata Imron, yang pernah jadi lifter terbaik nasional kelas 72 kg. 

Berkat kegigihan dan keteguhannya di cabang olahraga angkat besi, ia mendapat Anugerah Bintang Mahaputra dari tiga presiden Indonesia. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement