Senin 11 Mar 2019 09:07 WIB

Laga Puncak Kompetisi Basket Tertinggi Sajikan Duel Klasik

Satria Muda dan Stapac terakhir kali bertemu pada partai puncak lima tahun silam.

Rep: Fitriyanto/ Red: Gilang Akbar Prambadi
Kapten Satria Muda Pertamina Arki Dikania Wisnu membawa bola saat menghadapi NSH Jakarta pada laga  ketiga semifinal IBL Pertamax 2018/2019.
Foto: DOK IBL
Kapten Satria Muda Pertamina Arki Dikania Wisnu membawa bola saat menghadapi NSH Jakarta pada laga ketiga semifinal IBL Pertamax 2018/2019.

JAKARTA -- Duel klasik atau partai El Clasico yang mempertemukan Satria Muda (SM) Pertamina dengan Stapa Jakarta akan tersaji di partai puncak Indonesian Basketball League (IBL) Pertamax 2018/2019.

Kepastian ini terjadi SM memenangi laga semifinal ketiga atas NSH Jakarta, kemarin. Dalam laga yang digelar di Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro (GMSB) Kuningan, Jakarta, itu SM Pertamina secara meyakinkan menang 72-48.

Sudah lama duel SM Pertamina melawan Stapac (dahulu Aspac) tidak terjadi di partai puncak kompetisi basket tertinggi di Tanah Air. Terakhir kali kedua tim bentrok di laga puncak pada 2014 silam.

SM mencapi final dengan penuh perjuangan setelah pada imbang 1-1 dalam dua laga semifinal. Dalam semifinal ketiga, NSH Jakarta tidak diperkuat satu pemain asingnya, Deshaun Wiggins. Motor utama NSH Jakarta ini mengalami cedera dislokasi bahu, saat semifinal kedua sehari sebelumnya. Ketidakhadiran Wiggins membuat permainan NSH kurang maksimal.

Usai laga, Youbel Sondakh mengungkapkan rasa syukur atas kemenangan ini. "Puji Tuhan diberikan kesempatan lolos ke final, walau bermasalah diawal. Kredit untuk semua pemain, NSH tim kuat musim ini, kita bermain tiga gim di semifinal," kata dia.

Youbel menambahkan, meski tanpa Wiggins, NSH tak mudah dikalahkan. Youbel mengaku beruntung karena SM punya materi lebih dalam. "Kita tidak tahu akan ada yang cedera. Kontribusi pemain asing sangat besar. Ini laga pertama NSH tanpa Wiggins, jadi pasti kesulitan," ujar dia.

Menanggapi peluang melawan Stapac nanti di partai puncak, Youbel optimis. "Kita sering ketemu Stapac jadi lebih bergengsi. Harga diri lebih terasa. Apalagi setelah empat musim tidak bertemu. Semoga di final kedua tim bermain sama baiknya," ujar dia.

Youbel mengaku penasaran dengan kekuatan mental pasukannya. Dia pun yakin laga kontra Stapac di final akan jadi ujian besar untuk timnya. "Kita mau lihat sejauh mana mental mereka tampil di final setelah Stapac empat tahun tidak main di puncak. Karena di final bukan sekedar skill, namun mental juga lebih penting," ujar dia.

Pemain SM, Hardianus sangat lega bisa membawa timnya lolos ke final. Dia menyatakan, kunci mengalahkan NSH adalah kemampuan dalam bermain sebagai tim. Dia pun mengakui, ketidakhadiran Wiggins juga sedikit membuat langkah SM lebih mudah.

"Kita all out main. Tanpa Wiggins sedikit lebih mudah, mereka kurang polanya. Dalam laga final nanti apapun yang terjadi harus all out," kata dia.

Pelatih NSH, Wahyu Widayat Jati menyatakan, kehilangan Wiggins memang sangat berpengaruh. Dia mengatakan, dengan hilangnya Wiggins, sosok pengatur serangan hilang. Ini turut membuat pertahanan timnya berpengaruh sehingga tampil kurang percaya diri.

"Anak-anak terbiasa ada pemain asing. Tiba-tiba jadi kehilangan, terlihat tidak ada keinginan untuk memenangkan pertandingan. Sempat pemain cadangan bagus tetapi kembali lagi turun," kata dia.

Pelatih yang akrab disapa Coach Cacing ini pun tak ingin timnya cepat-cepat hancur harapan. Dia berjanji akan membuat NSH makin bersaing musim depan. "Tahun depan kita butuh tambahan pemain, ada yang kita incar. Ada juga pemain yang berminat. Tahun ini keterbatasan pemain sehingga finih posisi semifinal sudah maksimal," ujar Wahyu.

Pemain NSH, Ryan Febriyan, sepakat dengan pernyataan sang pelatih. Untuk itu, dia dan kawan-kawannya berniat memberbaiki kekurangan tersebut. \"Banyak pemain kita tergantung dengan pemain asing," ujarnya.

Laga final tetap menggunakan format best of three. SM Pertamina yang berperingkat lebih rendah dari Stapac akan menjadi tuan terlebih dahulu. SM memainkan laga final di Britama Arena Mahaka Square Kelapa Gading Jakarta pada 21 Maret 2019. Stapac akan menjadi tuan rumah dua kali 23 Maret dan 24 Maret (jika dibutuhkan). Stapac rencananya memilih C'Tra Arena Bandung, Jawa Barat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement