Rabu 25 Sep 2019 22:56 WIB

Raja Sapta Oktohari Dinilai Punya Kapasitas Jadi Ketua KOI

Hingga saat ini baru Okto, sapaan akrab Raja Sapta Oktohari, yang mencuat namanya.

Rep: Fitriyanto/ Red: Israr Itah
Raja Sapta Oktohari (tengah).
Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Raja Sapta Oktohari (tengah).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Raja Sapta Oktohari baru saja mendeklarasikan diri menjadi bakal calon ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) periode 2019-2023. Hingga saat ini baru Okto, sapaan akrab Raja Sapta Oktohari, yang mencuat namanya untuk menjadi calon ketua menggantikan Erick Thohir yang tidak lagi bersedia melanjutkan jabatannya sebagai ketua KOI.

Dengan latar belakang yang dimiliki putra dari Oesman Sapta Odang ini, baik itu di dalam dan luar negri. Di dunia olahraga ataupun dunia bisnis, banyak yang menilai kalau Okto memiliki kapasitas menduduki orang nomor satu di KOI.

Baca Juga

Pengamat olahraga senior, Fritz Simanjuntak ketika dihubungi Republika.co.id, Rabu (25/9) mengatakan, Okto figur anak muda Indonesia yang memiliki kapasitas menjadi ketua KOI. “Baguslah Jika ada anak muda bersedia menjadi Ketua KOI. Dengan pengalamannya  pernah menjadi ketua Asian Para Games, Ketua PB ISSI, itu artinya dia memiliki kapasitas.”

Hal yang sama diungkapkan pengamat olahraga lainnya Djoko Pekik Irianto. Ia mengatakan, pengalaman Okto di organisasi olahraga PB ISSI dan juga menjadi ketua panitia multi event Asian Para Games 2018 lalu salah satu nilai lebihnya.

Meski dari kapasitas memadai, Frits lebih jauh memberikan tantangan terhadap calon ketua KOI mendatang termasuk Okto agar mampu mencari sponsor sendiri untuk membiayai kontingen Indonesia. “Harus mampu mencari sponsor jangan hajya tergantung dana  dari pemerintah.”

Ketua KOI mendatang memiliki tugas berat, selain karena banyak kegiatan internasional yang akan hadir di tanah air. Juga karena figur yang akan digantikannya adalah Erick Thohir, tokoh olahraga yang memiliki jaringan internasional cukup kuat.  Namun itu semua, menurut Fritz, akan bisa dilakukan oleh ketua KOI mendatang seiring jalan.

“Kalau Okto nanti terpilih atau siapa pun ketua KOI terpilih pasti ke depannya akan bisa dibangun dengan sendirinya. Sedangkan untuk memenangkan Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032, ketua KOI harus melobi pemerintah dulu serius atau tidak mau menjadi tuan rumah. Setelah itu membentuk Tim sukses menjadi tuan rumah dengan biaya KOI sendiri dulu. Jelas Fritz.

Djoko Pekik Irianto yang juga mantan Deputi IV Kemenpora bidang prestasi Olahraga mengungkapkan walau saat ini Okto calon kuat, namun dia harus bisa meyakinkan pemilik suara KOI. Okto harus mampu menunjukkan bahwa dia mampu bersinergi dengan pemerintah.

“Sedangkan untuk dunia internasinal, Okto bisa belajar dari pendahulunya, baik Rita Subowo maupun Erick Thohir. Sedangkan untuk pencalonan tuan rumah olimpiade 2032, segera konsolidasi intrernal dan ekternal terutama dengan pemerintah. Kemudian meyakinkan anggota IOC bahwa Indonesia mampu," kata dia.

Sementara itu Mohamad Kusnaeni menilai Okto harus memiliki  visi olahraga yang kuat. “Dia punya pengalaman memimpin organisasi olahraga nasional. Kapasitasnya tentu memadai. Tapi itu saja tidak cukup. Butuh kompetensi, jaringan, dan terutama visi yang kuat tentang arah masa depan olahraga Indonesia mau dibawa ke mana,” ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement