Selasa 21 Apr 2020 00:06 WIB

Putty Armein: Kartini Simbol Lawan Stigma Peran Perempuan

Kartini menghapus stigma perempuan tidak bisa melakukan apa-apa.

Peboling Indonesia Putty Armein (kiri).
Foto: Dok JUSRAGA
Peboling Indonesia Putty Armein (kiri).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peboling putri Indonesia Putty Armein memaknai Kartini sebagai simbol perlawanan terhadap stigma yang melekat pada perempuan sekaligus momen menunjukkan eksistensi wanita dengan prestasi. Perjuangan Kartini pada masa lalu, menurut Putty, sudah bisa dirasakan hasilnya saat ini, termasuk di dunia olahraga Indonesia. 

Perempuan yang semula hanya akrab dikaitkan dengan posisi istri maupun ibu rumah tangga, kini punya peran lebih luas. Perempuan, kata dia, terlihat lebih bebas untuk menentukan apa pun yang diinginkan, termasuk untuk menjadi seorang atlet.

"Stigma bahwa perempuan tidak bisa melakukan apa-apa atau melakukan sesuatu setengahnya, tidak harus kita terima begitu saja. Masih banyak ya sampai detik ini yang bilang jadi perempuan itu urusannya jadi istri, ibu rumah tangga, atau di dapur," kata Putty kepada Antara, Senin (20/4).

Putty yakin peran perempuan di kehidupan warga Indonesia sudah semakin besar, meskipun ia meyakini masih ada keluarga dan perempuan yang masih mendapatkan pembatasan. Menurut Putty, Kartini sebagai salah satu contoh perempuan yang berhasil mendobrak stigma bahwa perempuan hanya menjadi ibu rumah tangga. "Kita bisa lebih dari itu," ucapnya.

Peraih medali perak Asian Games 2006 di Doha itu mengaku bersyukur bisa merasakan hasil dari apa yang dulu pernah diperjuangkan Kartini. Hari Kartini yang jatuh pada setiap tanggal 21 April itu menjadi sebuah pengingat bahwa setiap perempuan bisa lebih dari sekadar perempuan yang banyak dimaknai oleh masyarakat.

Bahkan ia bercerita bahwa pilihannya untuk menikah dan menjadi seorang ibu rumah tangga pun, tak mempengaruhinya untuk terus bisa membela Merah Putih di berbagai kejuaraan internasional hingga saat ini. Menurut Putty, ia masih punya sesuatu yang bisa dipersembahkan bagi Indonesia.

"Mungkin banyak yang tidak mengerti kok saya mau jadi atlet sementara saya punya anak, harusnya mengurus anak. Bagi saya, itu tergantung bagaimana kita bisa menjelaskan maksud dan tujuan saya apa agar bisa bikin orang di sekitar saya mengerti," ujarnya.

Perempuan berusia 38 tahun itu memang tak pernah mendapatkan diskriminasi dari orang-orang terdekat atas pilihannya untuk tetap menjadi atlet meski dirinya sudah menikah dan mempunyai anak.

Namun Putty berpesan kepada para perempuan Indonesia agar bisa menentukan pilihannya, menunjukkan tekad dan tujuan yang kuat, serta terus berjuang menunjukkan diri yang seutuhnya.

 

sumber : Antara
Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement