Kamis 20 Aug 2020 19:12 WIB

Demba Ba Minta Sepak Bola Lawan Perlakuan China ke Uighur

Demba Ba menuduh sepak bola menomorsatukan materi daripada moral.

Demba Ba meminta sepak bola melawan penindasan terhadap Muslim Uighur.
Foto: AP Photo
Demba Ba meminta sepak bola melawan penindasan terhadap Muslim Uighur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan striker Liga Primer Inggris Demba Ba menyeru dunia sepak bola untuk mengecam penindasan yang dilakukan China kepada minoritas muslim Uighur. Demba Ba menuduh sepak bola menomorsatukan materi daripada moral.

Pemain timnas Senegal yang Muslim dan pernah 50 kali bermain untuk klub China Shanghai Shenhua itu berkata kepada BBC, dia bersiap untuk memprakarsai gerakan bangkit melawan penindasan itu. Partai Komunis China berada dalam tekanan internasional berkaitan dengan nasib kaum minoritas di Xinjiang.

Baca Juga

Lebih dari satu juta etnis Uighur dan minoritas-minoritas lainnya yang kebanyakan beragama Islam dari suku bangsa Turki, digiring ke kamp-kamp tahanan untuk menjalani indoktrinasi politik, kata kelompok-kelompok HAM dan para pakar.

China mengatakan kamp-kamp tersebut adalah "pusat-pusat pendidikan kejuruan" yang dibutuhkan untuk melawan ektremisme agama dan meningkatkan lapangan kerja.

Ba, yang pernah bermain untuk Chelsea, Newcastle United dan West Ham United, berkata, "Saya harus berusaha dan mengorganisasikan sesuatu sehingga para pemain sepak bola bisa melangkah bersamaan, dan dalam waktu bersamaan membahas masalah ini karena tak banyak orang yang mau melakukannya."

"Saya tahu ada pesepak bola yang ingin berperang demi keadilan, entah itu Muslim, Budha, Kristen, keyakinan apa pun," sambung Ba (35) yang kini bermain untuk klub Basaksehir di Turki.

"Sebagai insan olahraga, kita punya kekuatan yang bahkan kita tak tahu. Jika kita bersatu dan berbicara, segala hal berubah. Jika kita bangkit, rakyat bangkit bersama kita," kata Demba Ba lagi seperti dikutip AFP.

Ba bergabung dengan pemain Arsenal Mesut Oezil dalam menentang perlakuan China terhadap warga Uighur. Gelandang asal Jerman itu berbicara lantang tahun lalu sehingga membuat televisi China tidak menayangkan pertandingan-pertandingan Arsenal.

Arsenal tidak mengkritik Oezil atas komentarnya itu namun memposting di medsos China, Weibo, bahwa klub itu "selalu menghormati prinsip-prinsip" tidak terlibat dalam politik.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement