Selasa 27 Jul 2021 18:53 WIB

Mereka Buat Olimpiade Tokyo Tetap Riuh Meski tanpa Penonton

Para atlet, pelatih, dan ofisial tak jarang berteriak mendukung rekan mereka di Tokyo

Rep: Frederikus Bata/ Red: Israr Itah
Seorang ofisial dari China menyemangati atlet panahannya saat bertanding dalam Olimpiade Tokyo 2020 di Yumenoshima Park Archery Field, Tokyo, Jepang, Senin (26/7/2021). Penyelenggaraan Olimpiade yang diselenggarakan tanpa penonton dari kalangan umum tersebut merupakan keputusan di tengah kondisi darurat COVID-19 yang sedang diberlakukan di Ibu Kota Jepang.
Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Seorang ofisial dari China menyemangati atlet panahannya saat bertanding dalam Olimpiade Tokyo 2020 di Yumenoshima Park Archery Field, Tokyo, Jepang, Senin (26/7/2021). Penyelenggaraan Olimpiade yang diselenggarakan tanpa penonton dari kalangan umum tersebut merupakan keputusan di tengah kondisi darurat COVID-19 yang sedang diberlakukan di Ibu Kota Jepang.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Olimpiade 2020 di Tokyo digelar tanpa penonton. Kebijakan tersebut, guna meredam penyebaran virus corona. Namun bukan berarti ajang ini benar-benar sepi dari suara berisik. Para delegasi yang hadir terkadang menimbulkan kehebohan, seolah menggantikan peran penonton yang absen di arena.

"Secara teknis, tidak diperbolehkan bersorak karena resiko infeksi covid-19, tetapi aturan itu sulit ditegakkan," demikian laporan yang dikutip dari Reuters, Selasa (27/7).

Baca Juga

Para pelatih tim basket putri Mongolia menggebarak kursi plastik di dekatnya. Itu terjadi saat pasukan mereka bertanding dalam cabang olahraga basket 3x3 di Aomi Urban Sports Park di Tokyo.

Salah satu pelatih yang bereaksi bernama Tugsjargak Sambuu. Ia mengaku bersorak atas nama seluruh suporter yang tidak bisa hadir.

"Banyak orang Mongolia tinggal di Jepang. Mereka sangat ingin menyemangati tim kami. Kami mempunyai banyak penggemar di Tokyo, tapi penonton tidak diperbolehkan (memasuki tribun)," kata Sambuu.

Ada juga yang tak terlalu mempermasalahkan absennya penonton. Pesenam Rusia Lilia Akhaimova mengatakan, ia dan rekan setimnya justru lebih termotivasi memberikan yang terbaik. Satu pesenam, mendukung pesenam lainnya. "Sejujurnya, kami tidak terlalu memperhatikan itu, karena kami saling menyemangati, kami saling berteriak," ujar Akhaimova.

Terdapat lusinan pendukung China hadir saat ganda campuran mereka Xu Xin/Liu Shiwen dikalahkan pasangan tuan rumah Jun Mizutani/Mima Ito pada cabang olahraga tenis meja. Ada suatu momen di mana seorang suporter asal Negeri Tirai Bambu berjalan ke area media, kemudian meneriakkan nama Xu/Liu. Ia memimpin dukungan untuk andalan mereka tersebut.

"Kami terbiasa dikelilingi oleh ribuan bahkan puluhan ribu pendukung China. Jadi kami tidak khawatir sama sekali," tutur pelatih tim tenis meja Jepang Yosuke Kurashima.

Kehebohan juga terjadi di Tokyo Aquatics Centre, Selasa (27/7). Saat keluar dari kolam, para penyelem yang sedang berlomba mendapat sorakan dari rekan setim, pelatih, dan ofisial.

Pesenam Jerman, Sarah Voss, mengaku...

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement