Senin 27 Mar 2023 19:39 WIB

PSSI Dinilai Bisa Ambil Opsi Ini Sebagai Jalan Keluar Perihal Timnas Israel

Dia memahami penolakan terhadap kehadiran Timnas Israel pasti akan tetap ada.

Rep: Afrizal Rosikhul Ilmi/ Red: Gilang Akbar Prambadi
Delegasi FIFA mengukur jalan saat meninjau Stadion Si Jalak Harupat di Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (24/3/2023). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka meninjau kesiapan Stadion Stadion Si Jalak Harupat yang ditunjuk sebagai salah satu tempat bertanding bagi tim yang berlaga pada ajang Piala Dunia U-20 pada Mei 2023. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww.
Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Delegasi FIFA mengukur jalan saat meninjau Stadion Si Jalak Harupat di Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (24/3/2023). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka meninjau kesiapan Stadion Stadion Si Jalak Harupat yang ditunjuk sebagai salah satu tempat bertanding bagi tim yang berlaga pada ajang Piala Dunia U-20 pada Mei 2023. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat sepak bola Indonesia, Kesit Budi Handoyo mengatakan, satu-satunya opsi yang paling memungkinkan untuk menjadi jalan keluar dari polemik Timnas Israel adalah dengan meminta kepada FIFA untuk melarang Timnas Israel mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan selama Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia. 

"Saya pikir opsi jalan keluarnya adalah dengan membatasi, misalnya Israel bisa main di Indonesia tapi tidak diizinkan untuk mengibarkan bendera atau menyanyikan lagu kebangsaan mereka. Itu mungkin yang bisa didiskusikan ke FIFA," kata Kesit kepada republika.co.id, Senin (27/3/2023).

Baca Juga

Dia memahami penolakan terhadap kehadiran Timnas Israel pasti akan tetap ada, karena itu hak bagi semua masyarakat untuk menyampaikan pendapat mereka. Namun, Kesit menilai setidaknya jika PSSI berhasil mendapatkan persetujuan FIFA untuk melarang pengibaran bendera dan lagu kebangsaan Israel, penolakan dari beberapa pihak bisa berkurang.

Menurutnya, itu opsi yang paling memungkinkan. Pasalnya, kata dia, opsi lain seperti memindahkan pertandingan Israel ke negara lain akan sangat sulit. Dia mencontohkan salah satu masalah yang kemungkinan akan memunculkan persoalan baru adalah bagaimana jika Israel lolos dari fase grup atau bahkan sampai ke final. 

"Lalu belum tentu juga negara yang kita rangkul untuk menjadi tempat pertandingan khusus Israel mau menerima itu, kalau pun misalnya mau, gimana kalau ternyata Israel lolos dari fase grup dan maju ke perempat final bahkan hingga ke final. Masa mau dipindahkan semuanya? Kan agak riskan. FIFA kan nggak mau direpotkan dengan urusan-urusan seperti ini," kata dia.

Sebab itu, Kesit menegaskan opsi paling memungkinkan adalah dengan membiarkan Israel datang dengan catatan tidak ada pengibaran bendera dan lagu kebangsaan Israel. Pasalnya, Indonesia tidak bisa melarang Israel datang karena Israel telah memastikan diri lolos kualifikasi dan Indonesia wajib menerima semua peserta turnamen. 

"Indonesia sebagai tuan rumah ya harus menerima kedatangan mereka. Mereka (Israel) datang untuk bertanding sepak bola, bukan untuk kegiatan lain di luar olahraga," kata Kesit. "Kan nggak mungkin FIFA minta Israel untuk gak main di Indonesia karena gak boleh, kan gak bisa seperti itu juga. Kalau gitu jadinya malah FIFA yang melanggar aturan sendiri dan bisa dituntut balik sama Israel nantinya," ujarnya. 

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement