Rabu 05 Jul 2023 00:10 WIB

Pandemi dan Cedera Marc Marquez Biang Keterpurukan Honda di MotoGP

Sebelum 2020, Marc Marquez enam kali menyabet gelar juara dunia.

Pembalap tim Repsol Honda Marc Marquez terjatuh setelah mengalami kecelakaan saat balapan di Grand Prix Sepeda Motor Portugal di trek balap Algarve International, Portimao, Portugal, Ahad, (26/3/2023).
Foto: REUTERS/Marcelo Del Pozo
Pembalap tim Repsol Honda Marc Marquez terjatuh setelah mengalami kecelakaan saat balapan di Grand Prix Sepeda Motor Portugal di trek balap Algarve International, Portimao, Portugal, Ahad, (26/3/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Manajer tim Repsol Honda Alberto Puig mengidentifikasi penyebab terpuruknya timnya di MotoGP belakangan ini. Puig menuding pandemi Covid-19 dan cedera lengan Marc Marquez menjadi alasan utama di balik nasib buruk Honda di MotoGP.

Sebelum 2020, Marc Marquez enam kali menyabet gelar juara dunia. Sementara Honda memenangi 69 balapan dengan empat pembalap berbeda.

Baca Juga

"Saya pikir, jika Anda melihat kembali ke tahun 2020, kami mengalami Covid dan kami mengalami cedera Marc. Dan sejak saat itu semuanya menurun," kata Puig dikutip dari Crash.net, Selasa (4/7/2023).

Cedera Marquez tak lantas pulih, melainkan memburuk, sebagian disebabkan oleh upayanya untuk bisa kembali ke lintasan lebih awal dari rencana. Alhasil, Marquez justru absen hingga putaran ketiga musim berikutnya. Sementara, pembatasan perjalanan akibat Covid mengganggu proses pengembangan HRC.

Tentu saja, pabrikan Eropa juga terpengaruh oleh praktik kerja dari rumah dan pandemi memakan korban jiwa yang jauh lebih besar di Italia daripada Jepang.

Namun, Jepang menghadapi rintangan geografis yang lebih besar selama musim MotoGP 2020 yang hanya berlangsung di Eropa dan musim MotoGP 2021 yang nyaris tanpa penerbangan.

Meskipun demikian, para rival Honda berhasil mengatasinya dengan baik, Suzuki memenangi gelar MotoGP pada 2020 (dengan Joan Mir) dan Yamaha pada 2021 (Fabio Quartararo).

"Situasi Marc sangat rumit dari sudut pandang pembalap dengan cederanya, tetapi juga dari sudut pandang perusahaan, tidak mudah bagi para insinyur kami untuk melakukan perjalanan kembali ke Jepang, jadi mereka harus tinggal di Eropa," kata Puig.

"Mereka tidak dapat mengembangkan motor seperti yang biasa mereka lakukan di masa lalu karena mereka tidak kembali [ke pabrik] dan bertukar banyak informasi."

"Jadi...

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement