Jumat 09 Feb 2024 12:52 WIB

Pemuda Terkuat di Indonesia Ini Incar Kejayaan di Olimpiade 2024 Paris, Incar Medali Emas

Rekor dunia terus dipecahkan olehnya.

Rep: Fitrianto/ Red: Gilang Akbar Prambadi
Lifter putra Indonesia Rahmat Erwin Abdullah berdiri saat upacara pengalungan medali final 73 kilogram Grup A Asian Games 2022 di Xiaoshan Sports Centre Gymnasium, Hangzhou, China, Selasa (3/10/2023). Rahmat Erwin meraih medali emas dengan total angkatan 359 kilogram sekaligus memecahkan rekor Asian Games, sementara untuk angkatan clean and jerk Rahmat berhasil memecahkan rekor dunia dengan total angkatan 201 kilogram.
Foto: AP Photo/Louise Delmotte
Lifter putra Indonesia Rahmat Erwin Abdullah berdiri saat upacara pengalungan medali final 73 kilogram Grup A Asian Games 2022 di Xiaoshan Sports Centre Gymnasium, Hangzhou, China, Selasa (3/10/2023). Rahmat Erwin meraih medali emas dengan total angkatan 359 kilogram sekaligus memecahkan rekor Asian Games, sementara untuk angkatan clean and jerk Rahmat berhasil memecahkan rekor dunia dengan total angkatan 201 kilogram.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- LIfter andalan Indonesia yang baru saja juara dunia dan memecahkan rekor dunia dua kali di kejuaraan Angkat Besi Asia beberapa hari lalu, Rahmat Erwin Abdullah membidik medali emas di Olimpiade 2024 Paris. 

Saat ini Rahmat membangun keunggulan besar dalam peringkat kualifikasi Paris 2024. “Saya belum mencapai batas saya!”  kata lifter Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah yang diyakini sebagai pemuda terkuat di di Tanah Air ini. 

Baca Juga

Keyakinannya berasal dari performanya yang memecahkan rekor pekan ini di Kejuaraan Angkat Besi Asia di Tashkent.

Rasa lapar Abdullah yang tak terpuaskan akan gelar Olimpiade, yang tidak pernah ia dapatkan di Olimpiade Tokyo 2020 di mana ia berhasil mendapatkan perunggu, terlihat jelas saat ia naik podium pada Senin (6/2/2024) di ibu kota Uzbekistan. Abdullah yang sedikit lebih ramping turun dari kelas 81kg yang lebih sering ia ikuti pada tahun 2023, ke kelas Olimpiade – kelas 73kg putra – dan menunjukkan performa yang luar biasa.

Dia mengamankan medali dalam angkatan Snatch merebut 159kg, kemudian mengalahkan rekor dunianya sendiri dua kali dalam angkatan clean and jerk.

Rekor dunia pertamanya terjadi pada percobaan kelimanya di angka 202kg, kemudian ia memperbaikinya dengan angkatan keenamnya di angka 204kg. Total berat angkatannya yang mencapai 363kg hanya terpaut satu kilo dari rekor yang dipegang oleh juara Olimpiade dua kali, Shi Zhiyong.

Peraih medali emas dunia yang juga suskes meraih emas di SEA Games 2023, telah mengkonsolidasikan posisinya di puncak peringkat 73kg putra Olimpiade Paris 2024, memimpin dengan 14kg. “Sekarang harus menjadi emas,” kata atlet angkat besi tersebut yang mengincar Olimpiade Paris 2024.

Sementara itu Lifter Rizki Juniansyah menutup penampilan bagus bagi atlet Indonesia di Tashkent, menempati posisi kedua dengan total angkatan 353kg, disusul oleh Masanori Miyamoto dari Jepang dengan angkatan 335kg.

Rahmat yang berusia 23 tahun itu mempertahankan gelar juara dunianya tahun lalu, memecahkan rekor dunia di Riyadh, tetapi dalam kategori 81kg.  Ia kemudian secara impresif menduduki podium kelas ringan Asian Games 2022 Hangzhou yang digelar pada 2023, sekitar tiga pekan kemudian.

Rekor cemerlangnya berlanjut di Grand Prix Doha pada bulan Desember, di mana ia memenangkan perak di kelas 81kg.

“Penampilan Rahmat di kelas 81 kg merupakan bagian dari strategi mengasah kemampuan yang ada,” jata Erwin Abdullah, pelatih tim angkat besi Indonesia sekaligus sanga ayah yang merayakan momen emas di Tashkent bersama putranya.

Erwin Abdullah senior adalah mantan atlet angkat besi dan meraih medali perak di Asian Games 2002, begitu pula ibunya, Ami Asun Budiono, juara SEA Games 1995, yang juga mendampingi tim tersebut ke Kejuaraan Asia.

“Saat saya mulai angkat besi pada tahun 2012, ibu saya adalah pelatih saya karena ayah saya harus bekerja untuk menghidupi keluarga,” kata Rahmat Abdullah, yang telah bekerja bersama ayahnya sebagai pelatih sejak 2013.

Jadi pelajaran apa yang paling penting yang dia pelajari dari ayahnya, selain disiplin yang dia terkenal? “Ini cukup sulit untuk dijelaskan, tetapi setiap orang mempunyai batasnya masing-masing, dan mereka membutuhkan waktu dan upaya yang berbeda untuk mencapainya.”

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement