REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan bek Manchester United Patrice Evra pernah menerima ancaman pembunuhan menyusul pertikaian rasisme yang melibatkan penyerang Liverpool Luis Suarez pada 2011.
Saat itu, Suarez dinyatakan bersalah dan dilarang bermain dalam delapan pertandingan. Evra mengatakan salah satu konsekuensi dari serangan balasannya adalah surat-surat yang mengancam dirinya dan keluarga.
"Manchester United menerima begitu banyak surat ancaman tentang saya," kata Evra kepada podcast klub UTD dikutup dari AFP, Selasa (5/5).
Evra menjelaskan, isi surat itu antara lain seperti 'Kami di penjara, kami penggemar Liverpool. Ketika kami keluar, kami akan membunuh Anda dan keluarga Anda'. Ancaman yang tertuju langsung padanya itu lantas membuat Evra harus mendapatkan pengawalan.
"Selama dua bulan, saya dikawal keamana. Mereka tidur di depan rumah saya. Ke mana pun saya pergi, keamanan mengikuti saya," terangnya.
"Itu adalah masa yang sulit, tetapi saya tidak takut. Keluarga saya takut: istri dan saudara laki-laki saya, tetapi saya tidak," ungkap Evra.
Dia bahkan tidak mengerti mengapa orang-orang begitu membencinya. Menurutnya, mereka tidak tahu yang sebenarnya. Upayanya untuk berjabat tangan dengan Suarez sebelum pertandingan pada Februari ditolak. Evra pun berusah keras untuk mengendalikan emosinya.
"Saya ingat, selama pertandingan itu, saya berbicara kepada diri saya sendiri mengatakan: 'Jika kamu memukulnya sekarang, orang akan melihat kamu sebagai orang jahat, orang akan melupakan apa yang dia katakan'," kenang Evra.
"Aku berbicara pada diriku sendiri: 'Jangan lakukan ... lakukan itu ...' Aku tidak fokus untuk permainan," tuturnya.