REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama Andre Villas-Boas mendadak tenar saat menangani FC Porto. AVB sukses mengantarkan FC Porto meraih gelar juara Liga Eropa usai menundukkan klub Portugal lainnya, Braga, dengan skor 1-0.
Sebelumnya, AVB sudah mempersembahkan dua trofi lainnya, yakni Portuguese Supercup dan Portuguese Cup.Tak puas hanya meraih tiga trofi, AVB kembali menambah satu lagi koleksinya. Gelar juara Liga Portugal menjadi pelengkap sekaligus penutup trofi AVB pada musim itu.
Berkat prestasi itu, AVB menjadi pelatih termuda yang pernah meraih gelar juara Liga Eropa. Saat itu, usianya masih 33 tahun 213 hari. Usianya terbilang cukup muda untuk menjadi seorang pelatih klub profesional.
Hebatnya, gelar penutup itu dicatatkan AVB dan anak asuhnya dengan penuh gemilang. Porto berhasil mencatatkan rekor tak terkalahkan di pentas Liga Portugal pada musim itu. Klub berjuluk Portistas tersebut berhasil mencatatkan 27 kali menang dan tiga kali imbang dari 30 laga yang dilakoninya di pentas Liga Portugal.
Sayangnya, segala torehan menakjubkan yang telah ditorehkan AVB akhirnya harus terhenti. Mantan pelatih Academica de Coimbra itu memutuskan hijrah ke klub kaya Inggris, Chelsea, pada 21 Juni 2011. Tapi, kariernya bersama the Blues ternyata tak semulus di Porto. AVB gagal mempersembahkan satu pun trofi untuk Chelsea hingga akhirnya dipecat pada 4 Maret 2012.
Usai dipecat dari the Blues, karier AVB tak lantas mati begitu saja. Pada 4 Juli 2012, ia resmi dipercaya membesut klub tetangga Chelsea, Tottenham Hotspur, dengan durasi kontrak tiga tahun. Kini, AVB menangani Olympique Marseille. Di sana, AVB berhasil membawa Marseille lolos ke Liga Champions musim depan dengan menduduki peringkat kedua Ligue 1 yang diakhiri lebih cepat.