Rabu 14 Sep 2022 20:59 WIB

FIFA Bakal Minta Kesaksian Penggawa Ekuador Terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen

Timnas Ekuador terancam dicoret dari keikutsertaan di Piala Dunia 2022 Qatar.

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Endro Yuwanto
Pemain timnas Ekuador Byron Castillo (kanan).
Foto: AP/Dolores Ochoa, Pool
Pemain timnas Ekuador Byron Castillo (kanan).

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID -- Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) kabarnya akan memanggil salah satu penggawa timnas Ekuador, Byron Castillo. Pengoleksi delapan caps buat timnas Ekuador itu menjadi pusat pusaran polemik soal dugaan pemalsuan dokumen.

Berdasarkan lansiran Marca, Komisi Banding FIFA akan melakukan pertemuan dalam beberapa hari mendatang. Pertemuan itu akan membahas soal dugaan pemalsuan dokumen Byron Castillo saat memperkuat Ekuador di lanjutan babak kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona CONMEBOL.

Baca Juga

''Castillo telah diundang untuk memberikan kesaksian di depan Komisi Banding FIFA. Namun, hingga kini, belum bisa dipastikan terkait kehadiran Castillo tersebut, baik secara langsung ataupun melalui sambungan video,'' tulis laporan Daily Mail seperti dilansir Marca, Rabu (14/9/2022).

Sebelumnya, Castillo masuk dalam pusaran polemik kasus dugaan pemalsuan dokumen saat Federasi Sepak Bola Cile mengajukan protes terkait kasus ini ke Komisi Banding FIFA, April 2022. Namun, berdasarkan paspor dan dokumen-dokumen terkait yang dikeluarkan Pemerintah Ekuador, FIFA memutuskan, Byron tidak melakukan pemalsuan dokumen dan berhak memperkuat timnas Ekuador.

Kendati begitu, bukti baru muncul terkait kasus ini. Bukti tersebut berupa rekaman audio, yang berisi pengakuan Castillo.

Dalam rekaman tersebut, Castillo secara terbuka mengaku telah melakukan pemalsuan dokumen yang didukung secara penuh oleh salah satu pengusaha asal Ekuador pada 2018 silam. Rekaman audio, ditambah sejumlah dokumen pendukung, telah dipublikasikan oleh media asal Inggris, Daily Mail.

Tidak hanya soal tempat dan tahun lahir, Castillo juga mengaku melakukan pergantian nama agar bisa mendapatkan dokumen dan akta kelahiran palsu. Dalam pengakuannya tersebut, Castillo lahir di Tacoma, Kolombia, sebelum akhirnya hijrah ke Kota San Lorenzo, Ekuador.

Ini bukan pertama kalinya kasus dugaan pemalsuan dokumen menimpa Castillo, tepatnya pada 2018. Kepindahan pemain yang berposisi asli sebagai bek kanan itu antara klub sesama klub asal Ekuador sempat terhalang dugaan pemalsuan dokumen.

Federasi Sepak Bola Ekuador (FEF) bahkan sempat membentuk tim penyidik independen untuk mengusut kasus ini. Tim penyidik independen itu pun menemukan adanya pemalsuan dokumen, termasuk dengan adanya berbagai dokumen pendukung dan rekaman pengakuan dari Castillo.

Kendati begitu, dokumen dan rekaman audio ini tidak disertakan oleh FEF saat Komisi Banding FIFA melakukan investigasi terkait protes dari Federasi Sepak Bola Cile. Kasus ini pun berbuntut panjang. Apabila terbukti bersalah terlibat dalam pemalsuan dokumen, FEF terancam sanksi dari FIFA, termasuk dengan kemungkinan pencoretan timnas Ekuador di gelaran putaran final Piala Dunia 2022.

Cile yang menggugat hasil dua kali pertemuan dengan Ekuador di babak kualifikasi Zona CONMEBOL akan mendapatkan tambahan enam poin. Dengan begitu, Cile, yang finis di peringkat ketujuh, berhak naik ke peringkat keempat dan menggantikan Ekuador tampil di putaran final Piala Dunia 2022.

Di putaran final Piala Dunia 2022, Ekuador bergabung bersama Qatar, Senegal, dan Belanda di Grup A. Ekuador pun telah dijadwalkan tapil di laga pembuka, tepatnya saat menghadapi tuan rumah, Qatar, di Stadion Al Bayt, 20 November mendatang.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement