Senin 30 Jan 2023 08:00 WIB

Sederet Faktor Penyebab Keterpurukan Liverpool pada Musim Ini

Tampil di 63 laga sepanjang musim lalu jadi salah satu sebab keterpurkan Liverpool.

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Endro Yuwanto
Bek kiri Liverpool, Andrew Robertson.
Foto: AP/Jon Super
Bek kiri Liverpool, Andrew Robertson.

REPUBLIKA.CO.ID, LIVERPOOL -- Liverpool melakoni musim 2021/2022 dengan begitu impresif. Tampil di 63 laga dalam satu musim ini, the Reds nyaris menjadi tim asal Inggris pertama yang mampu meraih trofi di empat kompetisi berbeda.

Namun, pada musim ini, the Reds justru terus terpuruk dan kesulitan untuk bisa mempertahankan konsistensi performa. Mampu melaju hingga partai final Liga Champions dan mengakhiri Liga Primer Inggris di peringkat kedua, Liverpool akhirnya memastikan raihan trofi di dua kancah domestik, Piala Liga Inggris dan Piala FA pada musim lalu.

Baca Juga

Kendati begitu, pada musim ini, Liverpool terbukti gagal mempertahankan dua trofi tersebut. Pun dengan keterpurukan the Reds di pentas Liga Primer Inggris. Tim besutan Jurgen Klopp itu sudah tertinggal 21 poin dari Arsenal, yang memuncaki klasemen sementara, dan terlempar dari zona Liga Champions serta bertengger di peringkat kesembilan. Di pentas Liga Champions, Liverpool juga bakal menghadapi juara musim lalu, Real Madrid, pada babak 16 besar.

''Musim ini, kami tidak pernah menampilkan performa terbaik. Pada awal tahun, kami bertekad untuk bisa memulai dengan tekad baru. Namun, semua itu tidak terjadi. Kami malah semakin buruk. Di liga, kami tidak terlalu bagus. Kini, kami tersingkir di dua kejuaraan domestik,'' kata bek kiri Liverpool, Andrew Robertson, seperti dikutip BBC, Senin (30/1/2023).

Tampil di 63 laga pada sepanjang musim lalu dinilai menjadi salah satu penyebab keterpurukan ini. Dampaknya tidak hanya terasa pada kondisi fisik pemain, yang berujung meningkatkan risiko cedera, tapi juga ke mental para pemain. Gagal menyalip Manchester City pada pekan terakhir Liga Primer Inggris dan menyerah di tangan Real Madrid di final Liga Champions dinilai benar-benar memukul kondisi mental para pemain.

''Faktor lain yang muncul adalah cedera. Pada musim ini, Klopp jarang menurunkan susunan pemain terbaik Liverpool. Barisan pertahanan yang tampil di partai final Liga Champions pada musim lalu bahkan baru tampil sekali pada musim ini,'' tulis laporan BBC.

Sejumlah pemain andalan, seperti Luis Diaz dan Diogo Jota, pun terpaksa menghuni ruang perawatan. Performa rekrutan baru, seperti Darwin Nunez, juga tidak kunjung menunjukan sinyal peningkatan performa. Belum lagi dengan kecenderungan penurunan performa para pemain andalan.

Mohamed Salah dinilai tidak menunjukkan ketajaman seperti pada musim sebelumnya. Pun dengan Roberto Firmino yang kerap mengalami cedera. Keputusan melepas Sadio Mane juga dianggap menjadi penyebab menurunnya performa lini serang Liverpool.

Selain itu, para pemain tengah juga kesulitan untuk bisa mengulangi performa impresif pada musim lalu. Klopp bahkah lebih memilih menurunkan pemain muda, seperti Stefan Bajcetic, ketimbang pemain senior, Jordan Henderson. Pemain-pemain pelapis, seperti Naby Keita dan Alex Oxlade-Chamberlain, juga tidak mampu tampil konsisten.

Terlepas dari semua faktor tersebut, Robertson memiliki pendapat lain. ''Ini lebih dari hal-hal tersebut. Anda bisa katakan, kami tidak cukup percaya diri di depan mulut gawang lawan dan terlalu rapuh di lini belakang. Sebelum tampil di laga ini (kontra Brighton), kami mencatatkan dua clean sheet. Namun, kami langsung kebobolan dua gol. Kami harus bisa mendapatkan lagi kepercayaan diri,'' ujar Robertson.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement