Senin 18 Mar 2024 20:43 WIB

Kinerja Terbukti Hasilkan Prestasi, Tim Ad Hoc Sebaiknya Dijadikan Rekan Permanen PBSI

Tim Ad Hoc terdiri dari para legenda.

Rep: Fitrianto/ Red: Gilang Akbar Prambadi
Fajar Alfian dari Indonesia, kanan, dan Muhammad Rian Ardianto berpose dengan trofi usai memenangi laga final ganda putra Kejuaraan Bulu Tangkis All England Open melawan Aaron Chia dan Soh Wooi Yik dari Malaysia di Utilita Arena di Birmingham, Inggris, Ahad (17/3/2024).
Foto: AP
Fajar Alfian dari Indonesia, kanan, dan Muhammad Rian Ardianto berpose dengan trofi usai memenangi laga final ganda putra Kejuaraan Bulu Tangkis All England Open melawan Aaron Chia dan Soh Wooi Yik dari Malaysia di Utilita Arena di Birmingham, Inggris, Ahad (17/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar Manajemen Prestasi Olahraga Profesor Djoko Pekik Irianto mengapresiasi prestasi bulu tangkis Indonesia yang meraih dua gelar juara. Dia juga mengapresiasi kinerja tim Ad Hoc Olimpiade Paris 2024 yang dibentuk PBSI.

Ketika dihubungi Republika.co.id, Senin (18/3/2024) Djoko Pekik bangga dan memberi apresiasi atas capaian dua gelar bergengsi di All England 2024. Bahkan tunggal putra menciptakan All Indonesian Final.

Baca Juga

"Prestasi Ini pastinya sangat inspirasional, untuk bisa menorehkan prestasi dan kemajuan bulu tangkis Indonesia utamanya menuju olimpiade 2024 Paris," ujar Djoko Pekik.

Sebelum target meraih emas Olimpiade, Djoko Pekik juga berharap Bulu tangkis memperbanyak atlet yang bisa lolos ke Olimpiade 2024. "Pada Olimpiade Tokyo 11 atlet bulu tangkis lolos, semoga kali ini lebih banyak. Kita juga berharap medali emas bisa diraih, dimana unggulan kita ada di tunggal putra dan ganda putra," kata dia. 

Mengenai pembentukan tim Ad Hoc Olimpiade Paris 2024 oleh PBSI dan melibatkan banyak legenda bulu tangkis Indonesia, Djoko Pekik mengapresiasinya, bahkan mengusulkan agar dijadikan lembaga permanen untuk menjadi rekan PBSI kedepannya.

"Bagus dengan adanya Tim Ad Hoc, apalagi melibatkan banyak legenda. Tentu mereka akan memotivasi dan menambah semangat atlet muda agar dapat meraih prestasi di berbagai turnamen, khususnya olimpiade. Ini bagian upaya PBSI mengembalikan kejayaan bulu tangkis Indonesia," ungkapnya.

"Saya apresiasi kinerja Tim ad Hoc, kerja mereka bagus, All England 2024 salah satu hasilnya. kedepannya tidak hanya jadi Tim ad Hoc tetapi tim permanen jadi tandem atau partner PBSI sehingga bulu tangkis Indonesia kembali menorehkan prestasi dunia," kata dia. 

Tim Ad Hoc PBSI memiliki misi khusus untuk menjaga tradisi emas Olimpiade Paris 2024. Tim ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBSI, yakni M Fadil Imran selaku ketua tim. Adapun manajer tim diisi oleh Armand Darmadji.

Posisi direktur teknik ditempati oleh legenda bulu tangkis Indonesia, yakni Christian Hadinata. Sedangkan Rionny Mainaky, dia merupakan Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI ditugaskan menjadi kepala pelatih.

Tak hanya itu, para mentor juga ada dalam Tim Ad Hoc yang dihuni para mantan peraih medali emas Olimpiade. Mereka akan mengisi tiap sektor mulai dari tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran.

Tunggal putra akan dimentori peraih medali emas Olimpiade Athena 2004, Taufik Hidayat. Lalu, tunggal putri ada peraih medali emas pertama Indonesia di Olimpiade (Barcelona, 1992) yakni Susy Susanti.

Kemudian, ganda putra mendapat mentor dari peraih medali emas Olimpiade Sydney 2000, yakni Candra Wijaya. Berikutnya pemilik emas Olimpiade Tokyo 2020, Greysia Polii akan mementori adik-adiknya di ganda putri.

Terakhir, sektor ganda campuran akan dimentori langsung oleh peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Mereka adalah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement