Senin 18 Mar 2024 22:11 WIB

Sukses All England 2024, Pengamat: Agenda Pemain Harus Diatur, Libatkan Tim Ad Hoc

Kinerja tim Ad Hoc terbukti mengubah PBSI.

Rep: Fitrianto/ Red: Gilang Akbar Prambadi
Fajar Alfian dari Indonesia, kanan, dan Muhammad Rian Ardianto berpose dengan trofi usai memenangi laga final ganda putra Kejuaraan Bulu Tangkis All England Open melawan Aaron Chia dan Soh Wooi Yik dari Malaysia di Utilita Arena di Birmingham, Inggris, Ahad (17/3/2024).
Foto: AP
Fajar Alfian dari Indonesia, kanan, dan Muhammad Rian Ardianto berpose dengan trofi usai memenangi laga final ganda putra Kejuaraan Bulu Tangkis All England Open melawan Aaron Chia dan Soh Wooi Yik dari Malaysia di Utilita Arena di Birmingham, Inggris, Ahad (17/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat olahraga Mohamad Kusnaeni mengapresiasi keberhasilan pemain Indonesia di All England 2024. Bung Kus sapaan akrabnya mengingatkan agar agenda pemain diatur dengan melibatkan tim Ad Hoc Olimpiade Paris 2024.

Ketika dihubungi Republika.co.id, Senin (18/3/2024), i mengatakan bahwa dua gelar dari All England jelas prestasi yang membanggakan. Sekaligus menunjukkan bahwa pebulutangkis masih mampu bersaing di level tertinggi.

Baca Juga

"Khusus untuk tinggal putra, pencapaian Jojo dan Ginting patut diapresiasi. Soalnya, kita butuh 30 tahun untuk mengulang pencapaian final sesama Indonesia di All England," katanya.

Bung Kus menambahkan, saat ini yang harus diperhatikan adalah pengaturan agenda mereka selanjutnya. "Kita tahu bahwa Olimpiade sudah semakin dekat dan persaingan untuk mendapatkan tiket ke Paris sangat ketat," ujarnya. 

"Ada dua aspek yang perlu diperhatikan. Pertama, pemilihan event yang tepat dari segi level turnamen, waktu, dan lokasi sehingga tidak menguras fisik pemain. Kedua, menjaga kondisi Jojo dan Ginting agar tidak sampai cedera dan selalu prima," ujarnya.

"Di level dunia, persaingan tunggal putra sekarang sangat ketat. Setidaknya ada 10-12 pemain dengan kemampuan yang hampir setara. Hari ini Ginting bisa mengalahkan Axelsen. Di turnamen selanjutnya bisa saja Ginting atau Jojo dikalahkan Kunlavut atau Lee Zii Jia. Sebab kualitas mereka sudah setara. Siapa lebih siap, dia yang akan menang," ungkapnya.

Begitu pula di ganda putra, kata Kesit, ia mengatakan, Indonesia punya Fajar/Rian dan duet Bakri yang saat ini berpotensi lolos ke Olimpiade. Pengaturan agenda turnamen dan menjaga kondisi pemain juga akan menjadi kunci keberhasilan mereka meraih tiket ke Paris. 

"Saat ini, posisi Fajar/Rian dan Bakri di deretan delapan besar Road to Paris masih agak riskan. Di situlah Tim Ad Hoc Olimpiade bisa memainkan perannya," ujar Bung Kus.

"Tim Ad Hoc bisa memberi masukan dan advis kepada pelatih dan pemain agenda turnamen mana yang perlu diikuti. Sekaligus mereka juga bisa mengevaluasi performa para pebulutangkis. Apa saja yang perlu dibenahi untuk meningkatkan performa mereka," ujar dia menambahkan. 

Ia menegaskan, menuju Paris, PBSI masih punya waktu untuk berbenah dan menyiapkan lebih banyak pemain yang potensial lolos. Tidak hanya tunggal dan ganda putra, PBSI juga masih punya kesempatan mengirimkan wakil tunggal dan ganda putri. 

"Untuk saat ini, ganda campuran yang rasanya agak berat. Coach Herry IP harus diberi waktu lebih longgar untuk menata kembali kekuatan ganda campuran kita agar 2-3 tahun ke depan lebih meningkat performa dan prestasinya".

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement