Senin 11 Apr 2016 06:05 WIB

Filosofi Cruyff yang Abadi

Johan Cruyff
Foto: AP/Manu Fernandez
Johan Cruyff

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Frederik Bata

Twitter: @BataEddy

Tak hanya di dunia sains atau bisnis seorang kreatif memiliki masterpiece. Dalam urusan sepak bola pun ada. Beberapa hari lalu, dunia kehilangan sosok penting bernama Johan Cruyff.

Legenda tim nasional Belanda, Ajax Amsterdam, dan Barcelona itu diakui sebagai salah satu yang terbaik di jagad si kulit bundar. Peninggalannya bernama Total Football menjadi masterpiece. Gaya bermain yang kemudian menjadi budaya akademi La Masia milik El Barca dari kelompok umur U-8 hingga senior.

Pertama kali Cruyff melekat dengan konsep ini terjadi pada dekade 70-an. Bersama Ajax ia berhasil meraih trofi Piala Champions tiga tahun beruntun. Pada masa-masa itu raksasa Belanda mempertontonkan gaya sepak bola dengan konsep menyerang dan bertahan dengan stabil. Ada pergerakan secara konsisten dan timing yang pas dalam mengisi setiap pos. Terlihat sangat atraktif dan mendominasi di seluruh sisi lapangan.

Konsep serupa ditularkan ke skuat Orange asuhan Rinus Michels. Belanda dengan permainan menghibur menembus final Piala Dunia 1974. Meski di laga puncak, Cruyff dan rekan-rekan kalah dari Jerman Barat, dunia telah terbius oleh performa negara dengan julukan juara tanpa mahkota itu.

Di level klub, Cruyff telah berganti kostum. Dari Ajax ia pindah ke Barca. sebagai pemain, tak banyak trofi yang ia persembahkan untuk raksasa Katalan itu. Hanya gelar La Liga 1973/1974 dan Copa del Rey 1977/1978.

Tapi sebagai pelatih ia membawa revolusi ke dalam tubuh raksasa Katalan. Pada 1988, Cruyff datang ke Barca saat klub tersebut lekat dengan insiden Hesperia Mutiny. Yakni adanya permasalan pajak yang membuat para pemain Blaugrana berseteru dengan Presiden klub Josep Luis Nunez. Masa itu dikenal sebagai titik terendah atau musim terburuk Barca sejak 1941/1942.

Langkah awal kedatangan Cruyff dengan pelepasan 15 bintang. Ada rekonstruksi skuat. Dalam visi bermain, ia menciptakan seniman lapangan hijau berteknik tinggi. Tidak semata-mata berpatokan pada pendekatan fisik. Proses produksinya dimulai dari akademi La Masia. Sekolah sepak bola yang dibuat seperti asrama, mirip seperti milik Ajax. Bangunannya dekat stadion Camp Nou.

Josep Guardiola salah satu produk Barca asuhan Cruyff jadi pelaku kedigdayaan klub tersebut kala itu. Pasukan Katalan meruntuhkan dominasi Real Madrid. Empat gelar La Liga secara beruntun diraih dari tahun 1991-1994. Juga Piala Champions 1992, Piala Winners 1990, Super Eopa 1992, dan sebagainya.

Rupanya pola pikir Total Football sang mentor dikembangkan Guardiola di kemudian hari. Menjadi arsitek Barca pada 2008-2012, pria yang juga disapa Pep ini mempersembahkan semua gelar di level klub dengan permainan yang nyaris sempurna. Kreator lini tengah klub bernama Xavi Hernandez dan Andres Iniesta memporak-porandakan pertahanan lawan. Di lini depan ada Lionel Messi dengan pergerakan eksplosif di semua area penyerangan.

Konsep Total Football Cruyff disempurnakan Guardiola dengan sentuhan tiki-taka. Belakangan meski kerap berganti pelatih, pakem yang telah bertahan selama 30 tahunan itu tak pernah berubah. Faktanya Barca merajai dunia sepak bola dengan empat gelar Liga Champions dalam satu dekade terakhir.

Pakem Total Football ini kemudian masuk ke tim nasional Spanyol. Ada warna Barcelona di dalamnya. Semua tahu skuat Matador merajai Eropa 2008, 2012, dan Piala Dunia 2010 dengan menunjukkan pola permainan menyerang nan menghibur.

Siapa sangka pola yang dulu lebih identik dengan Belanda kini mengarah ke ranah Matador. Kuncinya karena pemikiran Cruyff yang ditularkan ke Barcelona. Dalam surat terbukanya terkait kepergian sang legenda, Presiden Barca saat ini, Josep Maria Bartomeu mengakui Cruyff telah mengubah sejarah klub tersebut.

Imbas manisnya juga terasa untuk Spanyol. Serta lebih jauh lagi, Cruyff membuat permianan bola memiliki nilai estetika berujung trofi. Legenda Inggris Gary Lineker melalui twitter menyebut mantan pelatihnya  sebagai sosok revolusioner sejati dalam dunia si kulit bundar. "Dunia telah kehilangan seseorang yang berjasa membuat sepakbola  menjadi permainan yang indah, lebih dari siapapun sepanjang sejarah," demikian cuitan eks penggawa Barca era Johan ini.

Itulah Johan Cruyff. Meski telah berkalang tanah, filosofinya tetap hidup tak lekang oleh waktu. Total Footballnya menjadi inspirasi bagi sederet juru taktik kenamaan dalam berekspresi. Tak heran pelaku sepak bola menunjukkan beragam seremoni penghormatan terakhir untuk tokoh yang meninggal pada usia 68 tahun itu

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement