REPUBLIKA.CO.ID, MANCHESTER -- Mario Balotelli termasuk pesepakbola yang kerap menjadi korban aksi rasisme. Tapi, penyerang Machester City ini mengaku tidak marah.
Menurutnya rasisme adalah bagian dari sepakbola yang tak bisa dihilangkan. "Orang-orang rasis jumlahnya sedikit. Mereka minoritas. Tapi, Anda tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah mereka," kata striker Timnas Italia tersebut kepada Time Magazine, Sabtu (3/11).
Berdasarkan pengalaman Balotelli, aksi rasisme hanya terjadi di sepakbola. Juru gedor 22 tahun ini bercerita, saat masih kecil, ia tak pernah mendapat ejekan dari teman-temannya menyangkut warna kulitnya.
"Ketika saya belum terkenal, saya punya banyak teman. Kebanyakan dari mereka adalah orang Italia. Rasisme baru dimulai setelah saya menjadi pemain sepakbola," kenang mantan juru gedor Inter Milan ini.
Menurut pria berdarah Ghana ini, cara paling ampuh melawan aksi rasisme adalah dengan mengacuhkannya. "Anda boleh berbicara (pada mereka). Anda boleh berusaha sejauh apapun. Tapi pada akhirnya Anda tidak bisa berbuat apa-apa karena pada dasarnya mereka adalah orang-orang bodoh," papar 'Mr Why Always Me' tersebut.