REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Abdullah Sammy
"Tell someone they can do anything and they won't know what to do. Tell someone what they cant do, and they'll know exactly what they want to do."........
Pada tahun 1970, dua orang filsuf asal Jerman Theodor Adorno dan Max Horkheimer memperkenalkan metode reverse psychology atau psikologi terbalik. Metode ini memanfaatkan emosi negatif dalam diri manusia, yang mana tiap orang punya kecenderungan untuk melawan arahan atau perintah.
Pada dasarnya, emosi ini sudah ada dari zaman Nabi Adam kala memakan buah khuldi yang dilarang Allah SWT. Alhasil, setiap anak cucu Adam punya kecenderungan untuk berlaku berkebalikan dengan perintah.
Karena itu, muncul metode psikologi terbalik yang memanfaatkan sifat berkebalikan manusia itu. Metode psikologi terbalik kerap digunakan orang tua dalam mendidik anak. Sebagai contoh, psikologi terbalik bisa digunakan untuk memacu seorang anak belajar. Ini seperti kata-kata, "Kamu pasti tak bisa mengerjakan soal ini!"
Pada dunia politik, metode psikologi terbalik bahkan jadi senjata utama di era sosial media saat ini. Di Facebook misalnya, tak terhitung banyak tautan berisi hujatan pada salah satu tokoh politik. Namun, tak sedikit dari hujatan itu yang justru dibuat oleh tim politik sang tokoh itu sendiri demi memunculkan simpati publik.
Namun, dalam tulisan ini, saya tak akan membahas teknik psikologi terbalik di dunia politik, melainkan di ranah sepak bola. Ya, teknik psikologi terbalik adalah hal yang jamak dilakukan di dunia kulit bundar.
Psikologi terbalik kerap dilakukan seorang pelatih, utamanya ketika berhadapan dengan media. Sebagai contoh kala seorang Louis Van Gaal merespons polemik soal transfer David De Gea.
Di penghujung Agustus, Van Gaal berbicara dengan terbuka ke media bahwa dia tak akan lagi menahan De Gea. "Saya tidak akan bisa membujuknya (agar tetap bertahan). Dia tahu segala situasi yang terjadi saat ini di Manchester United," kata Van Gaal, seperti dilansir Daily Mail, Agustus lalu.
Pernyataan Van Gaal itu nyatanya bagian dari strategi. Sebab di sisi lain, pelatih asal Belanda itu tak juga menerima proposal penjualan De Gea. Van Gaal malah berstrategi dengan menggantung nasib De Gea. Di sisi lain, dia memberikan posisi penjaga gawang utama ke Sergio Romero.
Pada akhirnya, strategi Van Gaal ini berbuah manis. De Gea yang posisinya digantung, malah memilih bertahan. Kata-kata Van Gaal soal ketidakmampuannya membujuk De Gea berbuah hasil yang berkebalikan.
Situasi yang nyaris sama dilakukan Van Gaal ketika proses mendatangkan Anthony Martial. Kala itu, Van Gaal sempat berucap bahwa proses transfer pemain MU sudah rampung dan tak akan ada lagi penyerang baru.
Di sisi lain, Van Gaal malah menyeru akan menjadikan seorang Marouane Fellaini sebagai ujung tombak tim Iblis Merah. Manuver Van Gaal ini akhirnya membuat manajemen MU luluh dengan menyediakan dana transfer fantastis untuk merekrut Anthony Martial dari AS Monaco dengan nilai 60 juta euro.
Tidak hanya dalam proses strategi transfer, metode psikologi terbalik juga kerap digunakan pelatih saat pertandingan. Sebagai contoh, adalah kala seorang Roberto Mancini mempersiapkan laga Inter kontra Chievo Verona, dua pekan lalu.
Kala itu, Mancini menilai Chievo adalah lawan yang sangat berat bagi timnya. "Mereka mampu menahan Juventus di kandangnya. Ini menandakan bahwa Chievo adalah ancaman bagi tim manapun," kata Mancini, kala itu seperti dilansir Football Italia.
Pernyataan Mancini ini jadi bagian dari strategi psikologi jelang laga. Karena dengan ucapannya yang mengunggulkan Chievo itu, sang musuh diberinya beban untuk menang. Sedang di sisi lain, Mancini coba memacu semangat anak asuhnya yang dinilai sulit untuk mengalahkan Chievo. Pada akhirnya, Inter pun menang 1-0, meski harus menghadapi perlawanan sengit.
Trik-trik psikologi terbalik ini juga sering digunakan pelatih besar ketika jeda 45 menit babak pertama. Banyak pelatih besar yang kemudian menggunakan pendekatan memaki anak asuhnya ketika timnya tertinggal.
Sebagai contoh, pelatih sekelas Alex Ferguson kerap melontarkan kata 'bodoh' pada para pemainnya. Dia pun kerap melempar barang dan mengumpat para pemain MU ketika tampil buruk di babak pertama.
Namun strategi 'menjatuhkan' justru memiliki tujuan sebaliknya. Metode Fergie ini selaras dengan prinsip, "terkadang mesti terjatuh untuk bisa bangkit." Alhasil, MU di era Fergie pun kerap mencatatkan kebangkitan setelah keluar kamar ganti di babak kedua. Muncul kemudian istilah populer 'Fergie Time' yang menandakan bahwa pemain MU kerap bangkit di paruh akhir pertandingan.
Namun, pelatih yang paling ahli menainkan metode psikologi terbalik adalah seorang Jose Mourinho. Sudah tak terhitung permainan kata Mourinho di media yang justru memiliki tujuan berkebalikan.
Yang paling anyar adalah ketika Mourinho mengkritik performa Eden Hazard usai Chelsea dikalahkan Crystal Palace 1-2, akhir Agustus lalu. "Seorang pemain yang menyandang gelar pemain terbaik seharusnya punya sebuah tanggung jawab untuk bisa menampilkan performa yang setidaknya sama dengan musim sebelumnya," begitu kritik Mourinho pada Hazard, seperti dilansir Bleacher Sport.
Sebuah kata-kata kritik yang nyatanya memantik performa Hazard di pekan-pekan berikutnya. Hazard pun perlahan mulai menemukan performanya, seperti kala mencetak gol ke gawang Arsenal, beberapa pekan berselang.
Namun, tak selamanya Mourinho sukses dengan pendekatan psikologinya. Mou malah pernah menjadi korban dari metode psikologi terbalik.
Semua ini terjadi ketika Mou menangani seorang Mario Balotelli di Inter Milan pada September 2009. Kala itu, Inter sedang melakoni laga tandang Liga Champions ke markas klub Rusia, Rubin Kazan. "Saat itu, kami tak memiliki penyerang selain Balotelli," ujar Mourinho, berkisah pada reporter CNN, Pedro Pinto.
Celaka bagi Mourinho karena di babak pertama Balotelli mendapat kartu kuning dari wasit. Pada istirahat babak pertama, Mou pun menghabiskan 14 dari 15 menit waktu jeda hanya khusus untuk berbicara empat mata dengan Balotelli. Ini agar Balotelli bisa menghindari kartu merah pada babak kedua. Tapi arahan Mou direspons dengan psikologi terbalik.
"Saya tak bisa mengganti mu Mario (Balotelli). Jadi jangan sentuh pemain lawan. Bila pemain lawan provokasi, jangan bereaksi. Jika wasit salah, jangan bereaksi. Tolong, Mario," ucap Mou menirukan perbincangannya pada Balotelli kala itu. "Dan akhirnya pada menit 46, kartu merah untuk Balotelli!" kenang Mou sambil tertawa.
Ulah Balotelli ini mungkin hanya bisa ditandingi oleh Homer Simpson, tokoh dalam film kartun The Simpson. Dalam salah satu episode, Homer Simpson membaca buku tentang cara mendidik anak dengan metode psikologi terbalik. Homer pun terlibat perbincangan dengan otaknya.
Otak Homer berkata: "Apakah kamu tak mengerti, kamu harus menggunakan psikologi terbalik untuk mendidik anak!"
Homer lantas membalas: "Itu sepertinya sangat sulit."
Otak Homer menimpali: "Kalau begitu jangan gunakan psikologi terbalik."
Homer membalas: "Ok saya akan gunakan (psikologi terbalik)!"